Hebayak Pilai
Penulis: Yoel Chaidir
Agik untung Wawan kenek peridep e yang bisu, men hampai kenek peridep die yang biase dipanggul e pasti liwat Wawan hari ini.
(Masih untung Wawan kena peliharaannya yang bisu, kalau sampai kena peliharaannya yang biasa digendong sudah pasti Wawan akan tewas).
Tutur mang Dayat setelah melakukan ritual pengobatan kepada Wawan yang dibawa oleh temannya.
Wawan tetiba tak bisa bicara. Ia diam membisu. Matanya memandang dengan sorot mata lurus ke depan.
Petang menjelang Maghrib Wawan dibawa temannya ke rumah Mang Dayat.
Ia dikenal sebagai kuncen daerah pesisir Tanjung Habang.
Wawan dan temannya ternyata baru saja pulang dari mancing di sebuah lelap perbatasan antara dua desa.
Saat mancing, dua temannya tiba-tiba melihat melihat Wawan yang hanya diam.
Ia tak bersuara namun sorot matanya terlihat seperti ada hal gaib yang membuat Wawan seperti itu.
Mang Dayat menjampi air dan bunggil (sejenis umbi umbian yang biasa digunakan sebagai bahan untuk pengobatan hal gaib).
Air dan bunggil itu digosokkan ke seluruh tubuh Wawan. Sebagian disemburkan melalui mulut Mang Dayat.
Wawan tetiba bergetar hebat. Ia berteriak histeris lalu pingsan.
Mang Dayat lalu melafazkan sesuatu tepat di telinga Wawan.
