Oleh: Juliana Safitri Harahap — Mahasiswa Program Studi Perikanan Tangkap Universitas Bangka Belitung

Banyak orang membayangkan kampus sebagai menara gading. Tinggi, kokoh, dan agak terpisah dari hiruk-pikuk dunia nyata. Padahal, kampus sejatinya dan seharusnya merupakan jantung peradaban.

Tempat ide-ide lahir, diperdebatkan, dan diuji untuk menjawab tantangan zaman. Di sinilah civitas kampus, mahasiswa dan dosen memegang peran ganda. Sebagai pemikir sekaligus pelaku perubahan. Mereka tidak hanya belajar dan mengajar, tetapi juga menjadi agen yang menghubungkan teori dengan praktik, mimpi dengan kenyataan.

Mahasiswa ideal tidak cukup sekadar “kuliah-pulang.” Mereka dituntut untuk hidup di masyarakat mendengar denyut nadi kehidupan warga, memahami persoalan nyata, dan mencari solusi yang relevan.

Baca Juga  Dampak Teknologi Terhadap Kualitas Pendidikan di Sekolah Dasar

Salah satu contoh nyatanya adalah apa yang terekam di pemberitaan media berupa  aksi nyata yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa KKN yang turun ke lapangan di Desa Karangwotan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Pada tanggal 5 Agustus 2025 mereka memasang filter air kapur sederhana.

Dalam KKN ini, mereka turun langsung ke lapangan untuk membantu warga mengatasi krisis air bersih. Mereka tidak hanya membawa teknologi filter air sederhana, tetapi juga mengedukasi warga soal sanitasi dan pengelolaan sumber daya air. Hasilnya? Desa tersebut kini memiliki pasokan air bersih yang memadai, dan warganya lebih paham menjaga kebersihan lingkungan.

Salah satu contoh lain yang sangat menginspirasi datang dari mahassiwa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Mahasiswa dari berbagai jurusan bahkan bersama kolaborator dari kampus lain yaitu UNM, UIN Alauddin, UNHAS, dan Universitas Tadulako, menciptakan aplikasi pasar online untuk nelayan lokal.

Baca Juga  Timah dan Masyarakat Bangka: Unmuh Babel Tawarkan Solusi Damai di Tengah Ketegangan

Aplikasi ini diberi nama G-Fish (Genius Fish). Tujuan dari aplikasi ini adalah agar hasil tangkapan mereka bisa dijual langsung ke konsumen tanpa perantara. Inovasi ini meningkatkan pendapatan nelayan sekaligus memperpendek rantai distribusi.

Perjalanan mahasiswa tentunya tidak bisa dilepaskan dari peran dosen. Dosen idealnya bukan hanya pengajar yang membacakan materi, tetapi mentor yang memberi arah, mengajukan pertanyaan kritis, dan memantik rasa ingin tahu.

Penelitian dalam Higher Education Journal menemukan bahwa hubungan dialogis antara dosen dan mahasiswa -di mana keduanya berdiskusi setara- dapat meningkatkan keterlibatan akademik sekaligus memperkuat upaya kolektif menghadapi tantangan sosial.

Bayangkan misalnya seorang dosen hukum yang tidak hanya mengajar pasal-pasal perundangan, tetapi juga mengajak mahasiswanya mengunjungi persidangan, bertemu aktivis HAM, atau berdiskusi dengan warga terdampak konflik. Pembelajaran seperti ini jauh lebih membekas dan memotivasi. Tentu lebih banyak lagi contoh lain yang bisa diterapkan, sesuai keahlian setiap dosen yang berbeda-beda.

Baca Juga  Teknologi Digital dan Pengaruhnya bagi Kehidupan Masyarakat