Oleh: Yan Megawandi

Ada satu jenis pemimpin yang ingin dihindari karyawannya. Anak muda zaman now menyebutnya dengan pemimpin toxic. Ia selalu ingin menang sendiri. Ia memandang jabatan sebagai takhta mutlak yang harus dipuja. Ia menganggap dirinya superior dan merasa berhak memutuskan segala hal tanpa mempertimbangkan pandangan orang lain. Sosok seperti ini sebenarnya merasa tidak butuh tim kerja yang kritis. Ia hanya butuh para pengikut yang patuh belaka. Ketika keputusan-keputusannya disanggah, ia akan bereaksi keras.

Marah, merendahkan, bahkan tak segan-segan menjatuhkan siapa saja yang berani “melawan”. Pemimpin seperti ini sering kali didiagnosa menderita gangguan semacam Narcissistic Personality Disorder (NPD). Semacam gangguan kepribadian narsistik yang membuatnya seringkali menganggap dirinya sebagai pusat alam semesta. Pusat segala kehidupan, termasuk kehidupan orang lain.

Apa yang terjadi ketika seorang pemimpin sebuah organisasi misalnya saja di perangkat daerah menderita NPD? Hasilnya adalah sebuah organisasi yang tidak sehat alias sakit. Pemimpin otoriter semacam ini menginginkan kekuasaan yang absolut. Bulat 100 persen, tidak boleh kurang. Setiap keputusan harus berasal dari dirinya. Karena itu maka setiap pujian harus diberikan kepadanya.

Baca Juga  Di Antara Nilai dan Kepentingan

Ia tidak memberi ruang untuk perbedaan pendapat. Di matanya, yang berbeda berarti ancaman. Karenanya mesti dipadamkan. Pemimpin dengan penyakit NPD ini merasa lebih nyaman dikelilingi oleh orang-orang yang terbiasa membenarkan apa saja yang ia katakan. Kalau pun ada yang berani menyatakan ketidaksetujuan, pemimpin ini akan berusaha menyingkirkannya. Dengan cara halus maupun terang-terangan.

Anda bisa mengulik perilaku sang pemimpin model ini beserta modus yang diciptakannya dalam mengatur situasi kantor sesuai skenario yang diinginkannya. Sumber informasinya adalah orang-orang terdekatnya atau orang yang disingkirkannya. Termasuk bagaimana ia membungkus sifat otoriternya dengan senyum manis dan untaian kata-kata indah. Misalnya misi organisasi, jargon, puisi, pantun atau bahkan penggalan ayat dari kitab suci dan hadis. Terselubung dengan manis dibalik semua maksud sesungguhnya.

Mengapa perilaku otoriter dari pemimpin seperti ini berbahaya? Karena ia merusak tatanan kerja dan menghalangi potensi pertumbuhan organisasi. Staf organisasi perangkat daerah yang seharusnya bisa berinovasi, pada akhirnya hanya bisa menunggu perintah. Ruang diskusi lenyap, digantikan oleh instruksi-instruksi sepihak. Turun dari atas ke bawah.

Baca Juga  Bersama Menguatkan Identitas Serumpun Sebalai di Meja Pembangunan

Mirip payung yang bocor dikala hujan. Tak ada lagi proses evaluasi yang obyektif, karena yang dinilai bukanlah kinerja, melainkan kesetiaan. Mereka yang setia, meski kinerjanya minim, akan selalu mendapat tempat. Sebaliknya, mereka yang kritis tapi berprestasi justru dianggap duri dalam daging. Karenanya mesti dikeluarkan. Ini semakin mudah dilakukan bila sang pemimpin punya otoritas memindah-mindahkan siapa saja dengan alasan apa saja.

Asal muasal

Pertanyaannya dari mana asal muasal penyakit NPD ini? Mengutip pendapat para ahli sebagaimana yang disampaikan oleh uchicagomedicine yang menyatakan bahwa penyebab NPD merupakan hasil kombinasi dari faktor-faktor genetik, lingkungan, dan neurobiologis. Salah satu teori yang banyak diakui adalah bahwa pola asuh berperan penting.

Anak-anak yang mengalami pengabaian atau terlalu dimanjakan oleh orang tua memiliki risiko lebih tinggi mengembangkan NPD. Dalam situasi ini, anak mungkin tidak diajarkan untuk menghargai orang lain atau memahami batasan, yang kemudian membuat mereka merasa lebih istimewa atau berhak atas perlakuan khusus​.

Selain itu, ada juga bukti bahwa faktor genetik dan neurobiologis berkontribusi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara stres oksidatif di otak dengan perilaku yang terkait dengan NPD. Hal tersebut menunjukkan bahwa aspek biologis juga terlibat dalam perkembangan gangguan ini​.

Baca Juga  Optimalisasi Unsur Biotik dan Abiotik Satuan Pendidikan

Hal lainnya yang ikut berpengaruh adalah pola asuh. Pola asuh yang terlalu melindungi atau yang terus-menerus mengkritik anak tanpa alasan yang jelas juga telah dikaitkan dengan peningkatan risiko NPD, karena hal tersebut bisa mempengaruhi harga diri anak secara ekstrem.

Dampak yang Terjadi

Karenanya hal seperti ini bukan sekadar persoalan kepemimpinan yang buruk. Ini juga sebenarnya menyangkut masalah psikologis yang mengakar. Pemimpin dengan gejala NPD ini cenderung tidak bisa menerima kritik, karena di dalam hatinya ia menyimpan luka batin yang dalam. Biasanya hal itu merupakan rasa tidak aman atau rendah diri yang terpendam.

Ketika kritik datang, yang ia rasakan bukan masukan untuk perbaikan, melainkan serangan yang mengancam citra dirinya. Lalu kemudian ia akan merespons dengan kemarahan, menuding balik, bahkan menebar teror emosional. Intinya ia akan memberikan balasan.