Berpuasa, untuk Apa? (Bagian 2)
oleh Ustad Alanshori, S.Th.I, MP.d, Pimpinan Pontren Quran Cahaya, Bangka Selatan
Ramadhan adalah bulan tarbiyah atau bulan pendidikan, selama sebulan dilatih, dididik dan di gembleng oleh Ramadhan.
Diibaratkan sebuah lembaga pendidikan, yang dinilai sebagai lembaga yang terbaik adalah out put-nya atau lulusannya, apakah dengan predikat memuaskan atau tidak, apakah lulusannya bisa memberikan terbaik untuk masyarakat.
Demikian juga dengan Ramadhan tujuan didikannya juga ada dan termaktub dalam Al Quran, terkhusus dalam surah Al Baqarah ayat 183-185 yang artinya:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”
“(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu.
Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.
Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya.
Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui,”
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur,” (QS. Al-Baqarah [2]:183-185).
Dari makna ayat dalam surah Al Baqarah tersebut bahwa berpuasa terdapat dua tujuan yang pertama agar bertaqwa, yang mana sudah kami jelaskan pada tulisan sebelumnya, dan yang kedua tujuan berpuasa adalah menjadi orang bersyukur.
Syukur ialah realisasi ibadah itu sendiri. Ini tidak seperti dipahami sebagian besar orang bahwa syukur itu memuji Allah Ta’ala dengan lidah, atau komat-kamit setelah shalat, atau setelah makan kenyang.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menerjemahkan syukur ke dalam Tindakan Nyata. Aisyah Radhiyallahu Anha merasa heran dengan qiyamul lail Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.