Membentuk Diri dalam Pusaran Digital (Bagian II)
Oleh: Hendrawan, S.T., M.M. — Alumnus Universitas Pertiba-Pangkalpinang
Media Sosial, Arena Validasi dan Polarisasi Diri
Pembentukan Identitas Digital melalui Interaksi Simbolik
Media sosial telah menjadi arena utama dimana identitas dibentuk dan diekspresikan. Mengacu pada teori interaksionisme simbolik, realitas sosial adalah proses yang dikonstruksi secara dinamis, dimana individu saling bertukar simbol dan makna dalam interaksi.
Di media sosial, proses ini mengambil bentuk baru. Individu secara aktif membangun “citra diri ideal” untuk mendapatkan pengakuan dan validasi dari teman sebaya dan komunitas virtual. George Herbert Mead dan Herbert Blumer menegaskan bahwa “diri bukanlah entitas yang tetap, melainkan proses yang dinamis dan terus berkembang yang dibentuk oleh interaksi kita dengan orang lain”.
Pencarian validasi ini dapat menimbulkan dampak negatif pada kesehatan mental, seperti kecemasan dan rendahnya harga diri, karena individu terus-menerus membandingkan diri mereka dengan standar yang sering kali tidak realistis.
Tekanan untuk menampilkan citra yang sempurna dapat menyebabkan pembentukan identitas yang tidak stabil, dimana individu kesulitan menyeimbangkan diri mereka yang otentik dengan diri yang ditampilkan di dunia maya. Proses ini menunjukkan pergeseran dari interaksi tatap muka yang membentuk diri, menuju interaksi berbasis simbol digital yang menuntut kurasi identitas secara ketat.
Ancaman Polarisasi, Echo Chamber dan Filter Bubble
Media sosial juga menjadi panggung bagi fenomena polarisasi yang menghambat pengembangan diri. Konsep filter bubble dan echo chamber seringkali disamakan, namun keduanya memiliki perbedaan mendasar.
