Membangun Keluarga Penuh Berkah
Langit Menyambutnya, Dunia Belajar darinya (Bagian 15)
Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA
Di usia 25 tahun, setelah melalui fase pembelajaran kehidupan yang penuh tempaan, menggembala kambing, melakukan perjalanan dagang lintas negeri, hingga membangun reputasi sebagai pedagang jujur dan terpercaya, Muhammad SAW menginjak salah satu fase terpenting dalam hidupnya. Pernikahan.
Pernikahan antara Muhammad SAW dan Khadijah RA bukanlah sekadar kisah cinta dua insan, melainkan tonggak penting dalam perjalanan kenabian yang sarat nilai. Rasulullah SAW menikah dengan Khadijah RA di usia 25 tahun, sementara Khadijah saat itu berusia 40 tahun, seorang janda terpandang, kaya, dan dihormati karena kepribadiannya yang mulia.
Sosok wanita yang meminangnya bukan perempuan biasa. Dialah Khadijah binti Khuwailid, seorang janda bangsawan Quraisy yang terpandang, cerdas, berakhlak luhur, dan pengusaha sukses yang dihormati. Ia bukan hanya tertarik pada ketampanan atau usia muda Muhammad, tetapi terlebih pada integritas, kesantunan, dan kejujurannya dalam berdagang. Kesaksian Maisarah, pembantu Khadijah yang menyertai Muhammad dalam perjalanan dagang ke Syam, menjadi saksi utama kemuliaan akhlak beliau yang tak lekang di hadapan harta maupun hawa nafsu.
“Aku tidak pernah melihat orang sebaik dia, tutur katanya lembut, jujur dalam perhitungan, tidak menawar dengan keras, dan santun kepada siapa pun…” begitu kesaksian Maisarah yang disampaikan kepada Khadijah sepulangnya dari perjalanan dagang. Sebagaimana diriwayatkan dalam Sirah Ibn Hisyam.
Setelah pulang dari Syam, Khadijah pun menyampaikan keinginannya kepada Nafisah binti Munyah untuk menyampaikan lamaran secara halus. Muhammad SAW, meskipun yatim dan tanpa harta melimpah, menerima lamaran itu dengan penuh kehormatan. Lalu, digelarlah walimah yang penuh kesederhanaan namun sarat keberkahan.
Dalam Sirah Ibn Hisyam, disebutkan bahwa setelah menyampaikan ketertarikannya melalui Nafisah binti Munyah, Khadijah menyampaikan keinginannya untuk menikah dengan Muhammad. Rasulullah menyetujuinya dan mengajak pamannya, Abu Thalib, untuk meminangnya. Mahar yang disepakati saat itu adalah 20 ekor unta (atau menurut sebagian riwayat, setara 500 dirham), jumlah yang menunjukkan kesungguhan namun tetap dalam batas kewajaran.
Abu Thalib menyampaikan khutbah nikah yang menyentuh:
“Sesungguhnya Muhammad adalah anak dari orang yang tidak tertandingi dalam kemuliaan, dan dia akan memiliki kedudukan yang tinggi. Jika kalian menikahkannya dengan Khadijah, maka itu adalah kemuliaan bagi kedua belah pihak.” (Sirah Ibn Hisyam)
