Kulat Huket
Oleh: Yoel Chaidir
“Mane kulat dalem karung kemaren. Mane pundok Abuk kemaren?” tanya Izwar dalam hati.
Ia baru saja tiba di tempat ia meninggalkan 10 karung kulat (jamur-red) yang tak sempat terbawa.
Hanya dua karung saja yang dibawa ke basecamp tempat menginap rombongan pengebor timah.
Kulat huket yang dibawanya untuk dijadikan santapan makan malam mereka yang berjumlah 12 orang.
***
Para pengebor titik timah baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Mereka mendirikan tenda dan membereskan alat-alat untuk kerja.
Para pria muda ini selalu menyisir hutan seputaran tempat mereka menginap.
Kali ini mereka membuat basecamp di salah satu hutan desa di Bangka Selatan.
Pengeboran ini sesuai petunjuk dari mitra kerja sebuah perusahaan pertambangan yang ada di Bangka Belitung.
Peristiwa itu terjadi sekitar 1990an.
Saat rombongan yang berjumlah 12 orang tersebut menyusuri hutan hutan yang ditumbuhi pohon pelawan.
Mereka terperangah, banyak sekali kulat atau jamur yang tumbuh di sekitaran hutan tersebut.
Kulat atau jamur yang mereka temukan jenis kulat huket.
Tak jauh dari tempat tumbuhnya kulat tersebut terlihat sebuah pondok kebun.
Seorang kakek tua sedang asyik membersihkan rumput rumput liar yang tumbuh di seputaran pondok miliknya.
Soni memberanikan diri menghampiri kakek dan menyapanya.
“Sore kek…Ada kah kakek menyimpan karung di pondok?” tanya Soni dengan nada pelan.
“Kami ingin memetik kulat itu,” kata Soni lagi.
Tanpa menoleh sang kakek menunjukkan jari telunjuknya ke arah tumpukan karung di bawah bale bale kayu di luar pondok kebunnya.
