Penulis: Yoel Chaidir

Dua dasa warsa telah berlalu namun jejak jejak yang terlintas masih membekas dalam pikiran

Saat seekor anjing hitam jadi jadian dan bunyi serombongan kera penghuni hutan dekat makam, memberi isyarat.

Tanda bahwa jalan yang kami cari tak jauh dari tempat kami tersesat.

Mengapa kusebut anjing jadi jadian, sebab hanya sekilas lalu menghilang lenyap di samping kiri tepat aku berdiri.

Ketika itu, aku menghisap sebatang rokok kretek yang belum sempat ku buang.

***

Bermula dari beberapa penduduk Bangka Selatan menceritakan bahwa di tepi sungai perbatasan antardesa, ada dua buah makam yang dikeramatkan.

Setelah beberapa tahun kami bertiga berniat untuk menziarahi makam yang di sebut makam keramat dari para penduduk kampung.

Baca Juga  Kulat Pelawan yang Kini Berganti Menjadi Kulat Sawit

Jumat pagi kami mulai memasuki hutan di ujung desa.

Bermodal air minum dan rokok serta kembang kembang berbagai rupa kami melangkah dengan niat untuk mengetahui lebih dalam keberadaan makam keramat tersebut.

Melintasi beberapa kebun karet dan kebun lada penduduk setempat kami lalu menerobos hutan ke arah selatan desa.

Adalah Umar seorang warga desa yang memang telah pernah bersemedi di makam keramat selama delapan bulan.

Ia mendahului langkah kami sebagai penunjuk jalan pagi itu.

Walaupun Umar pernah ke makam tersebut tapi kali ini kami menemui jalan buntu.

Kami hanya memandang hutan tanpa celah untuk melihat ke arah depan.

“Kita salah jalan,” kata Umar pelan.

Baca Juga  Aku Kangen

“Tapi tak mungkin sebab saya sudah berulang kali ke sini sambungnya.

“Kita duduk dulu sambil minum dan merokok,” jawab ku singkat sambil melepas kan pantat ke sebuah akar kayu yang besar.

Aku mengeluarkan sebotol minuman serta menyalakan rokok.

Dalam hati berdoa minta dibukakan jalan untuk dapat berziarah ke makam yang disebut keramat oleh penduduk kampung.

Sejurus kemudian, tepat di sebelah kiri nampak jelas seekor anjing hitam membelakangiku.