Oleh: Rozi, S.Sos., M.A., — Dosen Ekonomi Universitas Bangka Belitung

Kalau kita dengar kata “ekonomi umat”, pikiran kita sering langsung tertuju ke masalah uang, usaha, dagang, atau lapangan kerja.

Padahal ada hal penting lain yang sering kita lupa: peran tokoh agama. Di tengah masyarakat, apalagi di Bangka Belitung, tokoh agama bukan hanya orang yang kita dengar ceramahnya di masjid atau majelis taklim.

Mereka adalah figur panutan yang dipercaya, dihormati, dan sering dijadikan tempat bertanya dalam berbagai urusan hidup, termasuk soal ekonomi. Sejak lama, masyarakat kita sudah terbiasa menghubungkan ajaran agama dengan kehidupan sehari-hari.

Maka, tokoh agama punya potensi besar untuk jadi motor penggerak kemandirian ekonomi umat. Kita semua tahu, kata-kata tokoh agama punya pengaruh kuat. Kalau mereka bilang jujur itu penting dalam berdagang, biasanya langsung menancap di hati banyak orang.

Baca Juga  Pelestarian Alam Hayati Dukung Pariwisata Bangka Belitung Berkelanjutan

Berbeda ketika pesan itu datang dari pejabat atau pihak lain yang mungkin dianggap jauh dari kehidupan sehari-hari. Karena itulah tokoh agama punya modal sosial yang luar biasa.

Kalau pengaruh ini diarahkan untuk menggerakkan ekonomi, dampaknya bisa sangat besar. Bayangkan kalau tokoh agama bukan hanya mengingatkan jamaah soal ibadah, tapi juga mendorong mereka untuk ikut koperasi syariah, mendukung usaha lokal, atau setidaknya belanja di warung tetangga. Hasilnya, masyarakat jadi lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung pada pihak luar.

Kemandirian ekonomi bukan berarti menutup diri dari dunia luar. Bukan juga artinya kita anti modernisasi atau globalisasi. Kemandirian itu soal bagaimana kita bisa berdiri di atas kaki sendiri. Jangan sampai kita panik kalau harga timah jatuh, bingung ketika harga lada naik-turun, atau terus-menerus menunggu bantuan dari pemerintah.

Baca Juga  Hari Pertama UTBK-SNBT UBB 2024 Berjalan Lancar

Dengan otoritas moral yang mereka miliki, tokoh agama bisa mengubah cara pandang masyarakat terhadap ekonomi. Mereka bisa menekankan pentingnya kerja sama, saling tolong, dan berbagi manfaat. Ekonomi umat tidak boleh hanya tentang untung pribadi, tapi juga soal bagaimana usaha bisa membawa kebaikan untuk banyak orang.

Kalau ditanya apa peran nyata tokoh agama dalam ekonomi umat, jangan sampai jawabannya cuma “memberi ceramah”. Ada banyak contoh sukses di mana tokoh agama benar-benar turun tangan. Di berbagai daerah, kita bisa melihat pesantren yang mengembangkan pertanian, perikanan, bahkan industri kreatif.

Santri belajar mandiri, masyarakat sekitar pun ikut merasakan manfaatnya. Potensi seperti ini juga ada di Bangka Belitung. Bayangkan kalau tokoh agama mengajak masyarakat bikin usaha kolektif di bidang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: perikanan, perkebunan lada, atau wisata religi.

Baca Juga  Tren Kesenjangan Sosial dan Realita di Bangka Belitung: Sistem yang Timpang, Tersesat di Lubang Tambang

Bayangkan juga kalau setiap masjid punya program pemberdayaan ekonomi umat yang melibatkan UMKM lokal. Dari situ, masjid bukan hanya jadi pusat ibadah, tapi juga pusat aktivitas ekonomi yang memberdayakan masyarakat.

Masalah utama dalam membangun ekonomi umat biasanya terletak pada kepercayaan. Banyak orang enggan ikut koperasi atau usaha bersama karena takut ditipu atau ragu dengan pengelolaannya. Di sinilah tokoh agama bisa berperan penting. Mereka adalah figur yang dipercaya.

Kehadiran mereka bisa menjadi penjamin moral. Kalau koperasi atau usaha bersama didukung atau bahkan dipimpin tokoh agama, jamaah lebih percaya untuk ikut serta. Tokoh agama bisa menjadi penghubung yang memperkuat ikatan sosial, sehingga masyarakat berani melangkah bersama.