Oleh: Muhammad Faiq Elfaruq

Ingin berlari mendahului sang waktu
Menyentuh puncak yang bernama ‘sukses’ itu
Tapi kaki terikat langkah terasa semu
Setiap dinding runtuh ada lagi batu

Lelah ini berat membebani bahu
Lidah kelu menahan jerit yang menderu
Ingin menangis biarkan air mata membasuh
Namun benteng ini harus berdiri kokoh dan utuh

Di tengah tawa riuh, aku tetap sang aktor
Menyimpan rapat sakit di balik senyum tebal
Kawan datang dan pergi
Meredakan sebentar gentir
Tapi saat lampu mati, sepi kembali menghajar

Baca Juga  Kau Bagai Mimpi