Kota Tanpa Lampu Sein

Oleh: Faturrachman

Di Kota Bahang, semua orang berkendara dengan motor. Namun tidak ada satu pun pemotor yang memasang lampu sein saat berbelok. Walau tidak ada undang-undang tertulis yang melarang, tapi keyakinan turun-temurun masyarakat Bahang ini telah menjadi hukum yang lebih kuat dari norma apa pun.

Bila mereka menyalakan lampu sein, maka mereka akan dihampiri Buyut Darat, makhluk gaib sejenis iblis yang akan memberikan penderitaan, nasib buruk, bahkan kematian yang mengenaskan.

Oleh karena itu, setiap tombol lampu sein motor harus dicabut. Lebih baik menabrak sesama pemotor di persimpangan daripada terkena kutukan Buyut Darat.

“Kacau sekali,” gumam Mamat, sambil menerawang keramaian Simpang Seribu dari Bengkel Motor Ahong. Simpang Seribu adalah ikon Kota Bahang karena banyaknya pemotor yang melintas di situ.

Volume kendaraan yang padat dan nyala lampu lalu lintas yang tidak sinkron membuat pemotor lebih memilih membayar Rp1000 ke Pak Cepek, petugas ilegal yang berinisiatif mengatur jalanan, agar mereka bisa lewat. Tanpa rambu dan lampu sein, pemotor hanya bisa mengira-ngira dan mempercayakan nasib mereka ke Tuhan dan Pak Cepek.

Baca Juga  Tambang, Timbang, Tumbang

Mau belok kiri? Arahkan motor ke sisi kanan jalan sambil membunyikan klakson pendek dua kali. Belok kanan? Posisikan motor ke sisi paling kiri, tolehkan kepala ke kanan, lalu banting setir ke kanan.

Lurus? Atur motor di tengah jalan sambil mempercepat laju gas. Keadaan begitu semrawut dan rawan kecelakaan, tapi tidak ada satu warga pun yang berani protes. Ketakutan pada Buyut Darat telah membius logika.

Mamat hanya menghela napas panjang. Sebagai salah satu montir di Bengkel Motor Ahong, salah satu tugasnya adalah mencabut tombol dan kabel lampu sein setiap motor yang datang. Pemerintah kota, melalui dinas ketertiban jalan, mendukung penuh praktik ini. Spanduk besar membentang di mana-mana.

“Waspadalah! Lampu Sein Membawa Petaka!”

“Bila lampu sein dinyalakan, Buyut Darat akan mengganggu hidupmu!”

Di akun media sosial pemerintah kota, selalu muncul postingan yang menayangkan kisah-kisah tragis tentang orang yang nekat menyalakan lampu sein. Seorang pengusaha sukses tiba-tiba sakit berat dan jatuh bangkrut.

Seorang ibu paruh baya kehilangan kewarasan. Seorang pemuda mendadak hilang dan ditemukan tak bernyawa di bibir pantai. Semuanya terjadi setelah mereka menyalakan sein.

Baca Juga  Logaritma

Hari itu, sebuah motor patroli dinas ketertiban jalan mengalami mogok di depan Bengkel Ahong. Mesinnya tidak bisa menyala. Seorang petugas muda, berseragam abu-abu necis, turun.

“Cepat, perbaiki motor ini,” perintahnya ke Mamat.

Saat mengamati setir, Mamat mendapati tombol lampu sein masih terpasang, utuh. Bahkan posisinya bergeser ke sisi kanan. Sebuah keteledoran yang nyaris membuat petugas itu celaka.

“Untung saja aki motor anda rusak. Kalau tidak, pasti lampu sein ini menyala,” sindir Mamat.

Petugas itu mendelik, wajahnya pucat, “Jangan banyak bacot! Perbaiki saja motor ini, dan jangan coba-coba kau sentuh tombol seinnya!”

Mata si petugas memancarkan kemarahan campur ketakutan. Tapi Mamat yang tidak ingin tersandung masalah memilih bersikap masa bodo.

Saat malam, di kostnya yang sempit, pengap, dan berbau tengik, Mamat berbaring, memikirkan segala hal terkait lampu sein. Kenapa masyarakat begitu takut menyalakan lampu sein? Padahal mudah dilakukan, banyak manfaat, dan tidak memerlukan energi besar. Tidak sampai membuat bensin habis, aki soak, atau motor terbakar.

Sebuah pemikiran konspiratif, yang sudah lama mengendap di otaknya, mulai merayap naik. Bagaimana jika semua ini hanya kebohongan? Sebuah alat kontrol untuk menciptakan ketakutan massal?

Baca Juga  Api dan Mawar tanpa Arang

Di dunia yang kacau karena tidak adanya isyarat lalu lintas, warga tidak berani untuk mempertanyakan aturan tidak masuk akal ini. Mereka terlalu sibuk bertahan hidup, bekerja mencari sesuap nasi.

Mamat teringat pada arsip lawas di ruangan 3A perpustakaan kota yang menjelaskan sejarah Kota Bahang sebelum “Revolusi Bermotor” 50 tahun lalu.

Ia sempat berkunjung ke sana dan membaca sekilas mengenai sejarah itu, namun kebakaran besar bulan lalu memusnahkan seluruh arsip di ruangan 3A. Tidak ada satupun catatan dan salinan yang tersisa, termasuk dokumen historis tentang asal-usul pelarangan lampu sein dan mitologi Buyut Darat.

Karena terdorong rasa penasaran yang besar, malam itu Mamat memutuskan untuk melakukan sebuah eksperimen untuk menjawab pertanyaan besar: Apa yang akan terjadi bila ia menyalakan lampu sein?

Dengan waswas, ia menyetir motor tua FS1 peninggalan ayahnya ke perbatasan Kota Bahang, menuju sebuah jalan sepi yang mengarah ke tambang nuklir, tempat yang dihindari semua orang karena peringatan radiasi dari pemerintah kota.

Jantungnya berdebar kencang. Napasnya ngos-ngosan.