Kota Tanpa Lampu Sein
“Ini gila. Semoga saja aku tidak mati.”
Dengan gemetar, jarinya melingkupi tombol di sebelah kiri setir. Mamat menarik napas dalam, dan menggeser tombol itu ke kiri.
Tik. Tik. Tik. Tik.
Suara itu menggema dalam kesunyian malam. Lampu kuning berkedip-kedip di antara gelap pepohonan dengan ritme yang teratur.
Tidak ada yang terjadi.
Tidak ada suara jeritan.
Tidak ada bisikan.
Tidak ada penampakan mengerikan.
Hanya angin malam yang berdesir.
Mamat tertawa terbahak-bahak. Tawa keras yang melepaskan semua ketegangan. “Ini semua bohong! Hahaha.”
Doooor!
Suara letusan senjata api di udara terdengar dari belakang Mamat.
Dada Mamat terasa sesak. Perlahan, Ia menoleh ke belakang. Segerombolan pemotor muncul dari persimpangan tambang. Mereka mengendarai motor trail, berpakaian hitam gelap, dengan raut wajah yang keras. Tapi yang paling mencolok, mereka semua menyalakan lampu sein!
Salah seorang pemotor keluar dari gerombolan, bergerak cepat ke arah Mamat yang mati kutu dan terdiam kaku di atas motornya.
“Alangkah beraninya kau datang ke sini sendirian,” kata pemotor itu, dengan suara berat.
“Sssss…siapa kalian?” desis Mamat.
“Kami adalah orang-orang yang kau panggil tanpa sadar. Tapi kami bukan Buyut Darat. Kami hanya klub motor trail desa.”
“Sejak 50 tahun terakhir, pemerintah kota menggunakan mitos untuk mengontrol warga. ‘Buyut Darat’ adalah fiksi buatan dinas ketertiban jalan agar tidak ada yang berani memberi isyarat yang jelas, sehingga banyak kekacauan muncul di jalan. Kondisi kacau itulah yang menjadi alasan mereka untuk memperoleh kekuasaan, wewenang dan uang yang tak terbatas.”
“Sebagai warga yang peduli keselamatan, kami berusaha melawan propaganda itu dengan tetap menggunakan lampu sein. Itulah kenapa mereka mengucilkan kelompok kami dengan menamai desa kami tambang nuklir.”
“Kamu berani datang ke sini melawan ketakutan dan stigma kota. Orang seperti kamulah yang kami perlukan,” lanjutnya.
“Sekarang, pilih salah satu. Ikut kami, atau kau mati di sini supaya tidak ada informasi yang bocor ke luar. Hati-hati, pilihan ini akan mengubah hidupmu selamanya.”
Mamat menatap sein motornya yang masih berkedip, kuning, terang.
“Itu bukan lampu petaka. Itu adalah lampu penunjuk jalan. Tak perlu takut, tak perlu ragu.”
“Aku ikut,” kata Mamat dengan suara yang lebih berani dari yang dikiranya.
Lelaki itu tersenyum tipis. “Bagus. Sekarang nyalakan sein kanan. Kita belok di persimpangan menuju desa kami.”
Tangan Mamat yang tadinya gemetar, kini mantap mendorong tombol sein ke kanan, dan memacu motornya.
Tik. Tik. Tik. Tik.
