Cubusservia dari Hōseki (Spes) Harapan
Karya Nurul Jannah Gustina, Siswi SMAN 1 Pemali
Suasana cafe sore itu sangat menenangkan jiwa. Dengan pemandangan sunset yang tepat menerpa jendela cafe. Walaupun terkesan ramai, suasana hening cafe seakan menghargai sang surya yang akan kembali ke peraduannya membuatku semakin tenggelam ke kenangan-kenanganku yang kian teringat akhir-akhir ini. Kenangan yang tak akan pernah bisa kulupakan, kenangan tentang Cubusservia.
Pikiranku kembali mengenang masa-masa beberapa tahun silam. Masa yang sempat membuatku merasa berada dalam studio film yang semuanya terkesan serba mustahil ada. Bahkan untuk teknologi masa ini. Rasanya tidak akan mungkin secanggih itu tanpa diketahui publik. Dan lagi-lagi, sosok gadis itu kembali muncul. Gadis pembawa pengalaman hidup paling berharga.
Dia adalah gadis misterius yang membuatku penasaran saat itu. Kemisteriusannya bukan karena dia selalu diam, berpakaian hitam-hitam atau apapun yang sering ada dalam cerita. Kemisteriusannya ada dalam pemikiran dan tindakannya, tata gerak tubuhnya, dan hal-hal kecil yang jika diperhatikan sangat berbeda dari orang biasa. Menurutku, tindakannya seperti bangsawan.
Salah satu keunikan Cubusservia adalah pola pikirnya yang sangat berbeda dari orang lain. Perumpamaannya, jika kita semua adalah barang yang dihasilkan dari pabrik yang sama, Servia adalah eksistensi yang berasal dari pabrik lain. Atau bisa disebut, dia didik secara berbeda untuk bisa menghasilkan pikiran-pikiran berbeda.
Seperti ketika perusahaan kami mengunjungi acara pembukaan taman bunga terbesar di kota. Di saat yang lain tersenyum melihat aneka bunga mempesona, dia hanya bersender di kursi dengan santai dan tersenyum miris, matanya yang dalam seakan-akan menyayangkan keberadaan taman terbesar kota tersebut. Entah apa yang disayangkan, yang pasti dia seperti tak terlalu senang akan taman tersebut, malah lebih terkesan tidak setuju.
Ia kembali membuatku penasaran. Ia perempuan—setahuku perempuan menyukai keindahan—yang walaupun tidak suka setidaknya tidak mempunyai tatapan seperti itu saat melihat bunga-bunga cantik di sekelilingnya. Akupun bertanya tentang pendapatnya tentang taman itu, mengapa ia seperti sedih dan menyesalkan keberadaan taman itu.
Dia bilang, “Aku tak ada masalah dengan bunga, dekorasi, atau pemiliknya. Aku hanya menyesalkan cara mereka mengubah hutan yang sebelumnya ada menjadi dataran bunga yang tak bertahan lama, tak bisa menggantikan habitat hewan-hewan hutan, mungkin sebentar lagi akan gersang karena bunganya layu. Harusnya mereka bisa dan harus melestarikan hutan, apalagi bumi sekarang sudah panas,”
Aku sampai terheran dan bertanya kenapa ia bisa memikirkan hal itu di saat ia dikelilingi keindahan.
“Kami dididik untuk tetap melestarikan bumi. Bukan merusak.” katanya, seakan dia itu spesies berbeda dari kami. Membuat prasangkaku akan asal muasal gadis itu menjadi semakin meyakinkan.
Bukannya tak pernah aku menyelidiki latar belakang gadis itu. Namun nihil. Dia Seperti muncul dari udara kosong. Tidak ada sekolah atau universitas bahkan organisasi dalam negeri yang memiliki murid bernama Cubusservia. Sejauh itu, aku tak bisa lagi mengakses informasinya, bahkan dengan mesin pencarian.
Tiga tahun kemudian, perusahaan kembali mendapat undangan untuk menghadiri acara pembukaan taman hutan kota. Tak disangka, tempatnya sama persis dengan taman bunga terbesar 3 tahun lalu. Sekarang hamparan bunga penuh warna berganti menjadi hijau yang menyejukkan mata.
Kukira hanya pohon yang ada. Setelah kami masuk lebih dalam, ada banyak rumah pohon, hingga kami diarahkan ke belakang satu-satunya villa dan melewati jalan setapak yang di kiri kanannya taman bunga di sela-sela pohon. Tak hanya itu, pemilik taman juga membuat danauh buatan dan gazebo-gazebo indah di tengahnya.
Aku melihat sekeliling danau, banyak pohon-pohon Tabebuya dan Cherry Blossom di pinggiran danau, kelopaknya hampir mewarnai seluruh danau. Sungguh pemandangan yang eye catching.
keindahan itu tak terlalu membuat ku terkejut dibandingkan dengan kami bertemu dengan Cubusservia. Ia tengah menikmati teh di kursi khusus pemilik taman dengan senyum hingga ke titik terdalam matanya. Aku baru sadar dia tak ada dalam rombongan.
Dia mewujudkan perkataannya. Meledak sudah batas keingintahuanku. Aku semakin terobsesi mengincar informasi tentang Cubusservia. Tanpa kusadari memang itu yang ia inginkan kala itu. Saat ia menghampiriku di jam pulang kantor. Berkata padaku tentang sebuah kesepakatan berharga. Lalu kami memutuskan untuk berbincang di cafe ini pada malamnya.
Lalu malam itu, dengan pakaian santai aku menunggunya di meja 8, meja yang sudah disepakati. Ia datang dengan blazer coklat tua serta kemeja putih yang pas di tubuhnya, tampak dari acara formal.
Ia duduk di depanku. Memesan secangkir kopi dan setelah beberapa menit, ia mengatakan tujuannya.
“Baiklah, Saka. Aku terkesan dengan kepekaan dan keingintahuanmu tentangku. Atau, bisa jadi tentang kami?” katanya.
“Apa? Aku tidak—”
“Mata kami ada di manapun Saka. Jangan mengelak,”
Lisanku terpaku. Wajahku pucat pasi. Sepertinya kali ini yang diselidiki bukan eksistensi biasa.
“Ayolah, jangan tegang begitu. Kami tidak sejahat yang kau kira. Berhubung kau sudah punya keinginan mencari tahu, sekalian saja kita kerja sama. Keingintahuanmu terjawab, tugasku pun tuntas dengan cepat,” ucapnya dengan santai, namun tidak dengan auranya.
Semakin menarik.
“Kerja sama? Boleh juga. Menilik dari tingkah lakumu, kalian bukan dari eksistensi biasa, kan?” jawabku
Cubusservia hanya tersenyum. Mengeluarkan map berisi surat perjanjian dan pena. Menyodorkan surat itu kepadaku.
“Hoseki? Apa itu? Aku belum pernah dengar identitas Hoseki selama ini. Jangan-jangan kalian hanya organisasi abal-abal ya?” Aku di kala itu sangat tidak percaya. Dari namanya saja sudah tidak terkenal. Sudah pasti itu bukan eksistensi luar biasa. Atau bisa jadi, saking luar biasanya mereka, sama sekali tak tersentuh dunia luar.
“Cukup informasinya Saka. Jika ingin lebih, silahkan tanda tangani,” ia tersenyum, menambah kesan misteriusnya.
Entah apa yang kupikirkan, aku menandatangani surat perjanjian.
Beberapa hari kemudian. Aku kembali diajak bertemu di salah satu cafe ternama di kota tempat ku bekerja. Kembali di meja 8, dan menunggu Cubusservia. Sama seperti kemarin, meja nomor 8 entah kenapa meja yang selalu ada di pojokan, atau tempat-tempat yang tidak mudah terlihat jika tidak diperhatikan.
Dia datang, lalu menyapaku. Dengan santainya dia menekan beberapa tombol yang ada di bawah meja—aku baru tahu saat ia menekan tombol-tombolnya—lantas seketika ada tirai yang membuat kami semakin terisolasi dari pandangan luar. Untungnya situasi cafe belum ada pelanggan.
“Oh iya. Setelah ini tolong kondisikan mentalmu. Jangan terlalu terkejut,”
“Hah? Apa maksud—”
Klik
Wusss
Potongan ubin di sekitar kami menurun dengan lembut dan cepat, tanpa suara berdecit atau gebrakan lantai ambruk yang mengundang kecurigaan. Kami memasuki basement cafe dengan meja di antara kami. Wajahku terkejut dengan mata setengah melotot. Tak bisa berkata-kata saking terkejutnya.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.