Oleh: Syabaharza

Jika mengulik kembali ke masa lalu. Dahulu ketika ada seseorang yang meninggal dunia, pasti akan diadakan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Pelaksanaannya dimulai pada malam pertama sampai malam ketujuh. Sehingga pada malam-malam yang dimaksud rumah keluarga duka akan selalu ramai. Selain untuk mendoakan yang sudah meninggal, kebiasaan itu juga diharapkan bisa menghibur dan meringankan beban ahli musibah.

*****

Di sebuah desa bernama Peldal. Waktu magrib telah tiba. Suasana malam itu sangat berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Terutama bagi sebuah keluarga. Malam itu adalah malam pertama mereka tanpa seorang ayah. Malam itu malam pertama mereka harus tidur tanpa sosok seorang panutan. Malam itu malam pertama mereka harus menerima kenyataan bahwa ayah mereka telah pergi untuk selama-lamanya meninggalkan mereka.

Tampak rumah mereka sudah menerima tamu untuk melaksanakan tahlilan dan mendoakan almarhum ayah mereka. Satu persatu orang berdatangan dan disambut oleh kakak tertua dalam keluarga tersebut. Sebagian ibu-ibu menyiapkan air dan kue untuk acara tahlilan tersebut. Gelas-gelas dari beling disiapkan untuk menyajikan kopi atau teh bagi tamu yang hadir.

Di dalam rumah sebagian besar diisi oleh orang yang sudah berusia empat puluh tahun ke atas artinya orang-orang yang dianggap sudah senior. Sedangkan para pemudanya berada di luar rumah. Di desa itu sudah lazim antara orang tua dan para pemuda berbagi peran masing-masing, sehingga tanpa adanya komando semua sudah tahu tupoksinya.

Baca Juga  Satu Putaran Arah Jarum Jam

Para orang tua bertugas sebagai pelaksana yasinan dan tahlilan, karena para orang tua yang ahlinya dalam memimpin acara yasinan dan tahlilan. Bahkan, sebagian besar dari mereka sudah hapal surat yasin di luar kepala. Sedangkan para pemuda bertugas menata hidangan untuk pelaksana tahlilan tadi. Adat di desa tersebut dalam menjamu tamu masih dengan cara menghidangkan makanan.

Biasanya ada satu atau dua orang yang memang ahli menyusun piring-piring yang berisi lauk-pauk sehingga menjadi sebuah hidangan yang menarik dan adil. Pemuda yang lain hanya membantu mengangkat piring-piring yang berisi lauk-pauk tadi dengan cara berbaris dan estafet. Di desa tersebut proses menghidangkan makanan seperti itu sering disebut dengan istilah ngobeng.

Hidangan yang dimaksud adalah berbagai macam lauk-pauk dan nasinya yang diletakkan membentuk lingkaran yang cantik dan menarik, setelah selesai orang-orang akan mendekat untuk mengambil nasi dan lauk-pauknya.

Selanjutnya yang dimaksud adil adalah tukang menyusun hidangan harus mampu membagi antara sayuran dan daging ayam jangan sampai berdekatan, sehingga tidak dimonopoli di satu tempat saja. Misal di depan satu orang hanya sayur saja sedangkan di depan yang lainnya hanya daging ayam saja. Jika salah perhitungan maka bisa saja ada yang hanya mendapatkan terong saja.

Baca Juga  Misteri Batu Anak Antu

Oleh karena itu personel yang boleh ikut ngobeng harus benar-benar orang yang terlatih. Walaupun tanpa adanya seleksi yang ketat, tapi anggota yang ngobeng selalu sukses dalam menjalankan tugasnya. Bagi sebagian orang yang merasa tidak mampu maka mereka sadar diri dan tidak memaksa untuk ikut-ikutan.

Tidak ada yang namanya orang dalam yang merekomendasikan untuk ikut tim ngobeng, sebab mereka yang tidak kompeten menyadari bahwa jika mereka memaksa ikut tanpa keahlian, maka akan membuat kacau saja tim ngobeng.

****

Ada satu kebiasaan lagi di desa tersebut yaitu apabila ada orang yang meninggal dunia, maka akan diadakan sedekah sampai tujuh hari dan setelah sedekah akan diadakan pengajian selama tujuh hari juga.

Kebiasaan itu sebenarnya bisa menyesuaikan, artinya jika ahli musibah tidak menghendaki adanya sedekah tujuh malam (dengan berbagai alasan), maka tidak apa-apa tidak ada sedekahan tujuh malam tersebut.

Lalu yang mengisi pengajian biasanya anak-anak muda bahkan remaja di desa tersebut atau desa tetangga. Teknisnya adalah nanti akan ada tim penjemput yang akan ikut mengaji. Setiap rumah yang ada anak muda nya maka akan didatangi oleh tim penjemput. Oleh karena itu ilmu mengaji sangat penting bagi anak-anak muda di desa tersebut. Sehingga setiap anak-anak muda di desa tersebut hampir wajib untuk ikut mengaji, namun jika belum bisa mengaji maka boleh ikut sebagai tim penjemput.

Baca Juga  Kapal tanpa Tuan

Karena tempat yang dilalui untuk menjemput anak yang akan mengaji jauh dan kadang gelap, biasanya tim penjemput ini akan membawa lampu tenteng yang agak besar dengan lingkaran di kepalanya seperti cincin sebuah planet di tata surya. Lampu itu sering disebut strongkeng sebagai alat penerangan. Sebuah lampu yang pernah jaya di masanya.

Tim ini juga yang menyiapkan Al-Qur’an tiga puluh juz dalam bentuk masing-masing satu juz. Targetnya tiap malam harus khatam minimal tiga puluh juz. Oleh karena itu tiap malam harus bisa membawa sebanyak mungkin orang, atau jika sedikit orang yang didapat, maka satu orang harus siap-siap khatam minimal dua juz atau lebih dalam satu malam.

Tim penjemput biasanya sudah menyiapkan segala sesuatunya sejak sore hari. Mereka akan memeriksa minyak dan sumbu strongkeng. Kemudian ketika tahlilan dimulai mereka akan menghidupkan strongkeng tadi. Perlu keahlian dan teknik khusus juga dalam menghidupkan strongkeng tersebut. Sebab jika salah, maka bisa saja kaos strongkeng rusak.

Pernah suatu ketika ada seorang pemuda yang belum bisa menghidupkan strongkeng tapi bergaya seperti bisa, sehingga ketika mau menghidupkannya bukan menyala tapi membuat kaosnya jatuh. Karena kejadian itu membuat mereka harus membeli baru kaos lampu strongkeng yang bertuliskan Butterfly.