Namun, terkadang kegiatan mengaji ini dimanfaatkan juga oleh sebagian muda-mudi untuk perkenalan atau pendekatan satu sama lain, sehingga terkadang siangnya mereka sudah janjian untuk ikut mengaji, padahal ketika mengaji mereka hanya ikut menjemput dan mengantar saja. Ketika yang lain mengaji, mereka yang memanfaatkan momen tersebut mengobrol di teras dan setelah selesai pengajian mereka juga pulang. Alasan ikut mengaji memang yang paling bisa ditolelir oleh orang tua agar mereka bisa keluar rumah.

Kejadian seperti di atas pernah dilakukan oleh salah seorang pemuda di desa itu. Bedanya ia berani hendak mendekati seorang perempuan tanpa membuat janii terlebih dahulu, hanya dengan modal nekat untuk PDKT. Dengan rencananya sendiri dia yakin untuk melakukan pendekatan dalam perjalanan penjemputan, harapannya si perempuan akan tertarik padanya dan bisa mengobrol ketika yang lain sedang mengaji.

Baca Juga  21

“malam ini aku ingin PDKT dengan cewek” ucapnya pada yang lain.

“siapa?” tanya temannya.

“nanti kamu tahu sendiri” timpal pemuda tersebut masih merahasiakan.

“nanti kamu dimarahi karena tidak ikut mengaji” teman nya yang lain mengingatkan.

“mudah-mudahan tidak! Karena ada juga teman-teman yang lain hanya ikut menjemput tidak ikut mengaji” pemuda tersebut tetap mantap dengan rencananya.

****

Malam yang dinanti pun tiba, pemuda itu akhirnya datang juga. Malam itu malam yang ketiga yasinan dan tahlilan di rumah ahli musibah. Biasanya malam yang ketiga banyak orang yang akan ikut mengaji.

Pemuda itu sudah tampil rapi. Kopiah hitam yang sudah lusuh bertengger di kepalanya. Baju kaos sebuah partai politik dimasukkan ke dalam celana jeans merk Lee. Sandal Swallow menghiasi kakinya. Bau harum mandom menyeruak dari badannya. Bibirnya selalu tersenyum. Malam itu sang pemuda ikut tim penjemput bergerilya ke rumah-rumah untuk mendapatkan peserta mengaji. Satu persatu rumah diketuk dan dipanggil oleh tim. Sejauh ini mereka selalu berhasil mendapatkan peserta untuk mengaji.

Baca Juga  Senja Terakhir Belle

Setelah dirasa personil sudah cukup untuk mengkhatamkan tiga puluh juz, tim pun memutuskan untuk kembali ke rumah ahli musibah dan semuanya pun sepakat. Tapi tiba-tiba ketika tim hendak balik kanan, pemuda itu mencegat.

“Oy….rumah yang itu belum kita datangi” Ucap pemuda itu sambil menunjuk sebuah rumah di ujung jalan.

“rumah itu orangnya pergi ke kota, besok pagi baru pulang” seseorang dari tim penjemput menimpali.

Jawaban itu membuat wajah pemuda tadi berubah seratus delapan puluh derajat. Senyumnya yang tadi sangat manis berubah masam. Baju kaosnya dikeluarkan dari dalam celananya. Tiba-tiba saja badannya menjadi lemas, seperti orang yang tidak makan selama satu bulan.

Baca Juga  Diary Jingga (Part 1)

“kenapa kamu, tiba-tiba tidak bergairah” salah seorang tim penjemput bertanya dengan penasaran.

“cewek yang ada di rumah itu, orang yang hendak kudekati tadi” jawab pemuda itu dengan lesu.

Mendengar jawaban pemuda tersebut, seluruh tim penjemput dan peserta pengajian tertawa terbahak-bahak. Sementara wajah pemuda itu berubah ke setelan awal.

*****

BIONARASI PENULIS

Syabaharza adalah nama pena Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected]