Oleh: Hendrawan, S.T., M.M. — Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka Selatan

Kebijakan Pemda Kabupaten Bangka Selatan dapat memposisikan mulok sebagai salah satu strategi kunci untuk memperkuat karakter pelajar. Dengan mengenalkan lingkungan alam, sosial, dan budaya, siswa diharapkan tumbuh dengan rasa cinta daerah, peduli terhadap isu lingkungan, dan siap berkontribusi dalam pembangunan.

Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka Selatan telah menunjukkan kepemimpinan dalam mengatasi masalah makro melalui instrumen lokal. Perda. No. 3 Tahun 2022 mewajibkan pengembangan kurikulum Mulok untuk mendukung Implementasi Pendidikan Anti-Korupsi (PAK).

Ini merupakan contoh bagaimana kurikulum daerah digunakan sebagai kendaraan untuk injeksi nilai-nilai ketahanan moral secara terstruktur. Nilai-nilai PAK diintegrasikan melalui nilai-nilai kearifan lokal yang sudah ditetapkan, yaitu Religius dan Gotong Royong, yang menjadi fondasi untuk membangun generasi yang dapat dipercaya.

Baca Juga  Pengantar dan Konteks Desentralisasi Pendidikan di Bangka Selatan

Contoh lain dari fungsi Mulok sebagai platform kebijakan strategis adalah optimalisasi penerapan program Integrasi Kurikulum Anti Narkoba (IKAN), sebagai tindak lanjut dari Perbup No. 33 Tahun 2022.

Program ini diluncurkan untuk melindungi generasi muda dari bahaya penyalahgunaan narkoba yang mengkhawatirkan. IKAN beroperasi secara interdisipliner, mengintegrasikan elemen pendidikan anti-narkoba ke dalam berbagai mata pelajaran formal seperti Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PKn), Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), serta ilmu alam.

Namun, penempatan mulok sebagai kendaraan kebijakan strategis (menampung agenda budaya, ekonomi, PAK, dan IKAN) menimbulkan risiko konten menjadi terlalu padat dan dangkal. Kurikulum moral dan agama sudah menghadapi alokasi waktu yang sempit, seringkali memaksa pembinaan moral dilakukan diluar jam pelajaran inti.

Baca Juga  Perilaku Pemimpin dalam Organisasi Pemerintah

Ketika mulok diwajibkan untuk menanggung beban agenda yang begitu banyak, terdapat potensi konflik kurikuler dan ketidakjelasan pedagogis. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pelatihan guru yang mendalam mengenai metodologi kontekstualisasi, memastikan bahwa konten budaya lokal tidak diabaikan demi fokus pada isu kontemporer, dan sebaliknya, materi IKAN dan PAK terintegrasi secara bermakna.