Ketika Amerika Shutdown, Saatnya Gen-Z Menyalakan Islam

Oleh: Maryani, S.Pd — Pendidik dan Aktivis Muslimah Muda Bangka Belitung

Awal Oktober 2025 menjadi momen yang memalukan bagi negara adidaya Amerika Serikat (AS). Untuk ke-22 kalinya sejak 1976, negara teladan demokrasi tersebut berhenti berkerja atau government shutdown. Yaitu situasi dimana negara menutup sebagian besar kegiatan pemerintahannya.

Menurut laporan Kompas (1/10/2025), situasi ini terjadi karena Partai Demokrat dan Partai Republik gagal menyepakati rancangan anggaran sementara, khususnya terkait subsidi kesehatan Obamacare dan pemangkasan defisit. Akibatnya, ratusan ribu pegawai federal dirumahkan tanpa gaji, bahkan Gedung Putih menyiapkan rencana PHK massal.

Reuters (9/10/2025) melaporkan, publik menilai kedua partai sama-sama bersalah. Kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara pun anjlok. Di tengah krisis, Donald Trump malah memperkeruh suasana dengan unggahan bernada ejekan kepada oposisi. Ia bahkan sempat membagikan topi bertuliskan “Trump 2028” di pertemuan resmi bersama pemimpin Kongres. Alih-alih mencari solusi, Trump justru tampil impulsif dan kekanak-kanakan. Mempertegas watak pemimpin dalam sistem demokrasi sekuler.

Baca Juga  Digitalisasi di Persimpangan Generasi: Spekulasi antara Gen Z  dan Gen X

Sudah saatnya dunia membuka mata bahwa apa yang terjadi di AS bukan sekadar krisis teknis. Melainkan penyakit sistemik dari kapitalisme sekuler yang rusak dan gagal.

Kapitalisme Sudah Lelah

Dalam sistem kapitalisme sekuler, kekuasaan ditentukan oleh siapa yang punya uang dan pengaruh. Kebijakan publik menjadi alat tawar-menawar antarpartai dan korporasi. Akibatnya, ketika kompromi gagal, layanan publik ditutup dan rakyatlah yang menanggung akibatnya.

Laporan Congressional Budget Office (CBO) menyebut, shutdown 2019 membuat AS rugi USD 11 miliar dan menurunkan pertumbuhan ekonomi (CBO, 2019). Sistem yang katanya paling rasional ternyata justru merusak dirinya sendiri.

Di banyak negara, termasuk Indonesia, gejalanya sama: defisit anggaran makin besar, utang menumpuk, dan kesenjangan makin terasa. Data Kemenkeu mencatat utang Indonesia sudah menembus Rp 8.300 triliun (Kemenkeu, 2025). Gini rasio masih 0,388—tanda jurang kaya-miskin belum tertutup (BPS, 2025).

Baca Juga  Fenomena Penjualan Batik di TikTok: Strategi Digital dalam Menghidupkan Budaya Lokal

Shutdown menggambarkan satu hal penting: negara kapitalis hanya bekerja selama politiknya stabil dan dananya tersedia. Begitu kepentingan politik bertabrakan, pelayanan publik pun ikut mati. Inilah wajah asli kapitalisme — sistem yang mendewakan kebebasan individu, tapi mengorbankan jutaan orang ketika elite berselisih.

Islam Pernah Menyala dan Tak Pernah Shutdown