Ketika Amerika Shutdown, Saatnya Gen-Z Menyalakan Islam
Berbeda dengan sistem kapitalisme, Islam menawarkan model pemerintahan yang kokoh dan berasaskan amanah. Dalam Islam, pemimpin adalah raa’in — pelayan umat yang bertanggung jawab di hadapan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Negara Islam mengatur keuangannya melalui Baitulmal, bukan melalui parlemen yang dikuasai partai. Semua pos pendapatan dan pengeluaran diatur berdasarkan syariat, bukan kepentingan politik.
Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdul Qadim Zallum dalam kitab Al-Amwal fi Daulah Khilafah (Sistem Keuangan Negara Khilafah), sumber keuangan negara Islam bersandar pada tiga pilar utama:
1. Bagian fai dan kharaj, termasuk ganimah dan jizyah.
2. Kepemilikan umum, seperti tambang, minyak, air, dan energi.
3. Zakat, yang diambil dari harta tertentu milik kaum Muslim sesuai ketentuan syariat.
Struktur ini membuat negara Islam mandiri secara fiskal dan bebas dari jebakan utang atau krisis anggaran. Bahkan jika baitul mal kosong, negara tetap wajib melayani rakyat, sebab pelayanan publik adalah amanah, bukan transaksi politik.
Mentalitas Kapitalis vs Kepemimpinan Islam
Shutdown Amerika memperlihatkan bagaimana mentalitas kapitalis melahirkan pemimpin berwatak egois dan populis. Saat jutaan orang tak digaji, elite politik justru sibuk dengan citra dan kampanye pribadi. Sistem seperti ini mustahil melahirkan pemimpin yang berempati.
Sebaliknya, sistem Islam membangun akhlak kepemimpinan yang lahir dari kesadaran spiritual. Pemimpin dalam Islam sadar bahwa jabatannya bukan kehormatan, tapi amanah berat. Khalifah Umar bin Khattab bahkan rela mengosongkan baitulmal demi memastikan tak ada rakyat yang kelaparan.
Dalam sistem Islam, shutdown adalah haram. Negara tidak boleh berhenti melayani rakyat, bahkan satu hari pun. Karena kekuasaan adalah bentuk amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT, bukan kepada partai atau sponsor politik.
Tantangan Gen-Z Abad ini: Menyalakan Islam
Peristiwa ini seharusnya membuka mata generasi muda khususnya Generasi Z. Gen-Z harus menyadari bahwa dunia modern hari ini sedang kehilangan arah. Didera krisis ekonomi, moral, dan spiritual. Kapitalisme sekuler mungkin masih berkuasa, tapi jiwanya sudah sekarat.
Gen-Z harus menyadari bahwa kapitalisme sekuler harus digantikan oleh ideologi lain yang siap memimpin dunia. Tugas Gen-Z Muslim bukan sekadar mengkritik, tapi menyalakan kembali Islam sebagai sistem kehidupan. Menunjukkan bahwa Islam bukan hanya ritual, tapi tatanan yang pernah menegakkan keadilan dan kesejahteraan sejati. Saatnya Gen-Z menyalakan Islam.
