Oleh: Zandi Pratama — Mahasiswa Program Studi Perikanan Tangkap Universitas Bangka Belitung

Rajungan (Portunus pelagicus) atau yang sering disebut blue swimming crab adalah salah satu biota laut yang menjadi komoditas ekspor perikanan di Indonesia. Rajungan merupakan salah satu jenis kepiting laut yang persebaranya hampir tersebar di seluruh perairan Indonesia termasuk Bangka Selatan Kepulauan Bangka Belitung.

Bangka Selatan dikenal sebagai salah satu daerah penghasil rajungan (Portunus pelagicus) yang cukup penting di Kepulauan Bangka Belitung. Rajungan bukan hanya sumber protein hewani, tetapi juga komoditas ekspor bernilai tinggi sebagai sumber pendapatan bagi nelayan Bangka Selatan.

Di tengah aktivitas yang tampak biasa itu, ada permasalahan yang dihadapi oleh nelayan yaitu hasil tangkapan rajungan semakin menurun. Nelayan di Bangka Selatan, sering mengeluhkan semakin sulitnya menangkap rajungan berukuran layak konsumsi. Banyak rajungan yang tertangkap masih kecil atau bahkan sedang bertelur.

Baca Juga  Fenomena Tambang Nikel di Raja Ampat: Ancaman Konservasi dan Pariwisata Indonesia

Masalah stok ini disebabkan oleh faktor yang saling berkaitan seperti praktik penangkapan yang kurang selektif, eksploitasi berlebihan, hingga keterbatasan pengelolaan lokal menjadi pemicu utama.

Dalam kajian yang dilakukan oleh Pikal (2019) dalam  pemanfaatan  ruang laut, terdapat penangkapan ikan dengan jaring trawl yang merupakan alat tangkap yang dilarang sehingga merusak perairan sekitar Kecamatan Tukak Sadai. Priyambada dkk. (2020) dalam kajianya menyatakan akibatnya, terjadi penurunan produksi kepiting rajungan oleh nelayan bubu di perairan Tukak Sadai yang secara langsung mempengaruhi tingkat kesejateraan nelayan bubu.

 Dari Tangkapan ke Budidaya

Di sinilah inovasi sederhana tapi efektif mulai muncul sebagai jalan keluar yang realistis. Salah satu praktik yang berkembang adalah crab fattening yaitu pembesaran sementara rajungan hasil tangkapan di tambak atau keramba agar berat tubuhnya naik sebelum dijual. Dalam kajian yang dilakukan oleh Tanti dan Sulawartiwi (2010) di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara,  telah diujicobakan pemeliharaan  benih rajungan.

Baca Juga  Ketika Tunas Sastra Tumbuh di Ajang FLS3N

Tak berhenti di situ, penelitian tentang hatchery atau penetasan larva rajungan juga tengah dikembangkan. Uji coba dan pelatihan sudah mulai diterapkan di Desa Mattiro Bombang Kabupaten Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan dalam kajian yang dilakukan oleh Hakim dkk. (2018) dalam program pembangunan desa mandiri (PPDM) yaitu pendampingan dan demplot.

Demplot merupakan teknik budidaya kepiting rajungan di tambak yang diaplikasikan mulai konstruksi tambak, pengeringan tambak, pengisian air, tempat pemeliharaan, pemilihan benih, pengangkutan benih, penebaran benih, pemeliharaan, kualitas air, pemberian pakan, pertumbuhan, penanganan hama penyakit, dan panen.  Dengan teknologi ini, nelayan tak hanya bergantung pada stok alam, tetapi bisa membudidayakan rajungan dari tahap awal.

Baca Juga  Pelaku Persetubuhan Anak di Bawah Umur di Toboali Bertambah 3 Orang, Penyidik Tetapkan 8 Tersangka