Metode ini menarik untuk dapat diujicobakan oleh kelompok nelayan Bangka Selatan agar dapat meningkatkan nilai jual tanpa harus bergantung pada  tangkapan dari laut. Tentunya diperlukan kajian dan uji terap lebih lanjut, bekerja sama dengan akademisi, peneliti dan pemerintah daerah.

 Limbah Cangkang, Dari Masalah Jadi Peluang

Satu permasalahan yang kerap luput dari perhatian publik adalah limbah cangkang rajungan. Di pusat pengolahan skala rumah tangga maupun sentra lokal, tumpukan cangkang menimbulkan bau dan potensi pencemaran. Namun studi dan program pengabdian masyarakat di Tukak membuktikan bahwa limbah ini punya nilai ekonomi bila dikelola. Cangkang rajungan kaya akan kitin yang dapat diolah menjadi kitosan, bahan bernilai tinggi yang digunakan pada industri farmasi, pertanian, hingga pembuatan bioplastik.

Baca Juga  Mottainai Nusantara: Bangun Kembali Harmoni Alam dari Filosofi Jepang dan Warisan Lokal Kita

Selain itu, cangkang juga dapat diolah menjadi tepung sebagai bahan pakan budidaya ikan air tawar atau dikomposkan menjadi pupuk kaya kalsium  membuka peluang usaha hilir bagi koperasi nelayan atau unit usaha desa. Beberapa penelitian dan pengabdian masyarakat di tingkat lokal telah menunjukkan keberhasilan pilot project pengolahan cangkang menjadi pakan dan komponen kitin/kitosan.

Gotong Royong Menjaga Sumber Daya Rajungan

Kebijakan formal di Indonesia juga mendukung upaya konservasi dan pengelolaan rajungan. Beberapa Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP No. 1/2015 dan No. 56/2016) mengatur larangan penangkapan jenis-jenis tertentu dan ketentuan ukuran tangkap untuk kepiting dan rajungan; regulasi ini dapat menjadi landasan bagi penguatan praktek penangkapan yang berkelanjutan di tingkat lokal agar tidak melakukan eksploitasi berlebihan.  Namun, implementasi regulasi perlu didukung pengawasan komunitas, pendidikan nelayan, dan insentif ekonomi agar aturan tidak sekadar menjadi dokumen.

Baca Juga  Diskominfo Basel Raih Penghargaan atas Capaian Kinerja TVRI Babel Tahun 2023

Apa yang perlu dilakukan sekarang? Pertama, penguatan kapasitas lokal: pelatihan crab fattening, budidaya hatchery skala kecil, dan pengolahan limbah cangkang menjadi produk bernilai tambah harus diprioritaskan lewat kolaborasi universitas, SMK perikanan, dan dinas terkait.

Kedua, penguatan tata kelola berbasis komunitas seperti koperasi nelayan dan peraturan adat lokal dapat membantu menerapkan ukuran tangkap yang efektif. Ketiga, dukungan teknis dan pembiayaan untuk unit pengolahan limbah skala mikro akan membuka sumber pendapatan baru dan mengurangi beban lingkungan. Pelibatan perempuan dan kelompok muda setempat dalam usaha pengolahan juga memberi dampak sosial positif.

Di ujung cerita, rajungan bukan hanya komoditas laut. Ia adalah cermin hubungan manusia dan laut, bagaimana kita melakukan penangkapan, mengolah, dan merawat sumber daya agar memberi manfaat jangka panjang. Di Bangka Selatan, langkah-langkah kecil dari fattening sampai mengubah cangkang jadi kitosan bisa menjadi batu loncatan menuju ekonomi pesisir yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga  3 Desa di Bangka Selatan Tolak Program Bank Tanah

Jika sekarang dikelola dengan bijak, generasi mendatang masih akan menemukan laut yang menghasilkan rajungan, bukan hanya di atas piring, tapi juga sebagai sumber daya yang lestari. Bukankah menjaga sumber daya ini adalah tanggung jawab kita bersama? Mulai dari diri sendiri, mari kita jaga ekosistem rajungan untuk keberlanjutan.