Tantangan Guru di Era Modern
Oleh: Rudiyanto, S.Pd.,Gr., — Guru Pendidikan Agama Islam dan Penulis Kabupaten Bangka Selatan
Pada era modern seperti saat ini, guru menghadapi berbagai tantangan-tantangan yang begitu kompleks. Tantangan pertama yaitu menurunnya nilai-nilai moral peserta didik. Nilai-nilai moral para peserta didik cenderung menurun.
Hal ini terlihat dari berbagai fenomena-fenomena yang terjadi pada peserta didik di satuan pendidikan seperti pembulian atau perundungan, kekerasan seksual, intoleransi dan lain sebagainya. Selain itu, saat ini banyak pelajar yang terlibat judi online, ujaran kebencian, penyebaran berita bohong atau hoax dan lain sebagainya.
Tantangan kedua yaitu ketergantungan pada media sosial dan budaya popular. Para peserta didik di era modern seperti yang terjadi saat ini cenderung tidak dapat meninggalkan media sosial dan budaya popular yang sedang viral. Hal ini membuat para peserta didik cenderung bersikap apatis, introvert, kurang bersosialisasi dan scroll media sosial hingga berlarut-larut serta lalai dan menyia-nyiakan karunia waktu yang diberikan oleh Allah SWT.
Selain itu, para peserta didik cenderung menirukan budaya popular yang tidak mencerminkan nilai dan norma yang berlaku, hingga hilangnya rasa malu dan empati. Tantangan ketiga, menurunnya sikap spiritual peserta didik. Sikap spiritual peserta didik di era modern ini cenderung menurun.
Hal ini terlihat dari sikap peserta didik yang enggan dan lalai melaksanakan ibadah salat lima waktu, mengaji dan amalan-amalan lainnya. Tantangan keempat ialah serban instan. Para peserta didik era modern saat ini segala sesuatu maunya adalah serba instan. Hal ini dapat menyebabkan peserta didik tersebut menjadi ketergantungan dan malas.
Menurut hemat penulis, berbagai tantangan-tantangan guru tersebut perlu disikapi dengan baik melalui berbagai upaya antara lain:
1. Melakukan Pendekatan yang Edukatif
Menghadapi berbagai tantangan-tantangan dalam dunia pendidikan, guru harus senantiasa berupaya melakukan pendekatan yang edukatif kepada para peserta didik yang melakukan pelanggaran-pelanggaran. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan mengajarkan rasa empati, tanggung jawab, dan lain sebagainya
