Nelayan Desak APH Bersihkan Penambang Ilegal dari Teluk Kelabat Dalam
BANGKA BELITUNG, TIMELINES.ID — Sebanyak 16 nelayan Teluk Kelabat Dalam yang tergabung dalam Forum Nelayan Pecinta Teluk Kelabat Dalam (FNPTKD) mendesak aparat penegak hukum (APH) menertibkan aktivitas ratusan penambangan illegal di Perairan Bukit Tulang, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Rabu (5/4/2023) siang sekitar pukul 11.00 WIB.
Ketua FNPTKD, Maryono kepada timelines.id tadi malam mengatakan para penambang ini sudah sejak sepekan mulai masuk ke wilayah Perairan Bukit Tulang yang tidak termasuk dalam IUP.
“Sudah 7 hari mereka kerja di sini. Kawasan ini bukan IUP. Kemarin PT. Timah menerbitkan SPK di Tanjung Sunur. Kita sudah sepakat dengan catatan tambang – tambang ilegal di luar IUP harus terlebih dahulu dibersihkan. IUP belum dikerjakan sudah dimasuk penambang ilegal dulu. Sekarang mereka (penambang) kalau di Tanjung Sunur tidak ada lagi timahnya. Malah pindah kesini,” kata Maryono saat dikonfirmasi via panggilan WhatsApp.
Pertemuan dengan pihak penambang dimediasi Personel Satpolair Polres Bangka. Maryono yang akrab disapa Yono meminta kepada APH untuk membersihkan kawasan Teluk Kelabat dari aktivitas penambangan illegal.
“Ada 700 nelayan di Teluk Kelabat Dalam ini. Memang ada sekitar 20 persen nelayan yang kucing – kucingan bermain di dalam jaringan penambangan illegal ini. Tapi sebagain besar masih menolak dan masih bergantung hidup di Teluk Kelabat sebagai wilayah tangkap nelayan,” keluh Yono.
Mirisnya saat dilakukan pertemuan dengan penambang di Perairan Bukit Tulang tadi siang. Pihak penambang menyodorkan nilai kompensasi yang disalurkan kepada nelayan Desa Pusuk, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat melalui oknum nelayan.
“Ada bukti kwitansi senilai Rp.35 juta disalurkan penambang ke seluruh nelayan Kelabat katanya. Untuk nelayan Desa Pusuk di situ tertulis sebanyak Rp.6 juta yang diserahkan ke oknum nelayan. Padahal kami nelayan dari Desa Pusuk tidak merasa pernah menerima aliran dana tersebut. Dan sejak dulu kami tolak,” tegas Yono.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.