Merenungi Arah Pendidikan Kita

Oleh: Yan Megawandi – Ketua Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung

Seminggu belakangan, ada tiga peristiwa yang secara tak langsung memaksa saya berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu kembali bertanya, sebenarnya ke mana Kepulauan Bangka Belitung hendak dibawa? Tiga peristiwa itu berbeda ruang, berbeda suasana, namun bertemu pada satu simpul persoalan yang sama yaitu pendidikan dan kualitas manusia Kepulauan Bangka Belitung.

Peristiwa pertama berlangsung dalam suasana sederhana, bahkan bisa dibilang romantik. Di bawah hujan deras yang turun tanpa kompromi, saya duduk bersama anak-anak muda Bangka Belitung dalam sebuah diskusi bertajuk “Ngupi Sure: Nek Dibawa ke Mane?”. Diskusi itu digagas oleh Alumni Kusmansa Pemali. Mereka adalah anak-anak muda yang saya sebut sebagai provokator pembangunan. Provokator dalam makna paling positif. Mereka yang menggugat keadaan, mengusik kenyamanan, dan berani membayangkan Kepulauan Bangka Belitung yang lebih baik.

Human Capital Terbaik

Mereka bukan anak muda sembarangan. Mereka adalah lulusan Kelas Unggulan SMA Negeri 1 Pemali. Sebuah program strategis yang dahulu dibiayai PT Timah ketika para petingginya masih punya visi yang keren dan jauh ke depan. Program ini tidak hanya mendidik secara akademik, tetapi juga membentuk karakter. Seleksi masuknya ketat, kehidupan berasrama siswanya disiplin, dan jarak sekitar 1,5 kilometer dari asrama ke sekolah ditempuh setiap hari dengan pengawasan ketat. Dari situ lahir generasi yang terbiasa hidup tertib, bekerja keras, dan berpikir jauh ke depan.

Baca Juga  Gelar dan Masyarakat Serba Instan

Menurut salah seorang alumninya, Nurul Ichsan yang kini menjadi perencana di Babel mereka ada sekitar 21 angkatan, dengan total 738 orang alumni. Hari ini mereka bertebaran: ada yang bekerja di Jakarta, dan kota besar di tanah air, serta ada sekitar 10 persen alumni yang berkarier di luar negeri. Ada pula yang tetap setia berkiprah di Bangka Belitung. Mereka adalah human capital terbaik yang pernah dimiliki daerah ini.

Sayangnya, pada tahun 2015, mungkin ketika itu para petingginya sedang galau dan kalut, program tersebut dihentikan secara sepihak oleh PT Timah. Alasannya finansial. Sebuah keputusan yang mungkin masuk akal secara korporasi, tetapi terasa amat mahal secara sosial dan strategis. Keputusan yang kemudian terasa seakan-akan semakin menjauhkan PT Timah dari masyarakat yang selama ini membersamainya.

Baca Juga  Teman Sejati

Diskusi sore itu ditutup tepat menjelang Magrib dengan satu kesimpulan bahwa percepatan pembangunan Bangka Belitung tidak bisa lagi bergantung pada kekayaan alam semata. Timah, lada, dan laut tidak akan cukup. Masa depan Babel wajib ditopang oleh penguatan SDM, diversifikasi sektor ekonomi, serta pembenahan tata kelola pembangunan.

Salah seorang narasumber, Rojani yang juga alumni SMA Pemali yang kini menjadi ahli statistik, mengingatkan pentingnya diversifikasi selain ekstraksi sumber daya alam. Ia pula yang memberikan info dengan nada serius bahwa 40 persen tenaga kerja di Bangka Belitung hanya lulusan SD. Serta soal bonus demografi.

Menurutnya, Bangka Belitung hanya memiliki waktu sekitar 17 tahun lagi untuk memanfaatkan peluang tersebut. Setelah itu, jendela peluang akan tertutup. Kita akan menua sebelum sempat melompat. Peringatan ini bukan untuk ditakuti, tetapi untuk disadari.

Sementara itu, Dr. Syarifah Amelia, alumni SMA Pemali lainnya yang kini menjadi anggota Komisi III DPRD Bangka Belitung, menyoroti persoalan tata ruangdan pembangunan. Menurutnya, pembenahan tata ruang dan tata Kelola pembangunan Bangka Belitung adalah pekerjaan mendesak. Tanpa arah ruang yang jelas, pembangunan akan terus sporadis, reaktif, dan rentan konflik.

Baca Juga  Tanda-Tanda Tua

APK-PT Bukan Sekadar Angka

Peristiwa kedua membawa saya ke Kampus Peradaban Universitas Bangka Belitung (UBB) di Balunijuk. Bersama Rektor Prof. Ibrahim dan civitas akademika, kami berbincang serius soal kinerja UBB dan satu isu krusial yaitu rendahnya Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi (APK-PT) di Bangka Belitung.

UBB telah berkembang cukup pesat dengan beberapa catatan prestasi. Lihatlah jumlah dosen dan mahasiswanya yang terus bertambah. Dengan kekuatan 386 orang dosen saat ini jumlah mahasiswanya adalah 1059 orang yang berasal dari berbagai daerah di tanah air. Bandingkan dengan jumlah mahasiswanya di tahun 2021 yang hanya 6061 orang. UBB juga telah memiliki 36 program study, termasuk 5 program study baru. Tahun depan mereka menargetkan dapat menampung 12 ribu lebih mahasiswa.