Legitimasi Publik, Tidak Perlu Direkayasa

Oleh: Iyek Aghnia — Penulis yang Tinggal di Toboali 

“Matahari mengumumkan kehadirannya dengan cahaya, bukan kata-kata; lakukan yang sama.” – Matshona Dhliwayo

Seorang sahabat penulis tiba-tiba menyatakan keberatannya saat penulis mengungkapkannya sebagai seorang penulis terbaik di negeri ini.

Apologinya sangat sederhana. Menulis adalah hobi dan sebagai upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Alasan yang dikemukakan sahabat penulis di atas yang telah melahirkan sejumlah buku dan artikel serta menjuarai berbagai lomba penulisan membuat penulis tertegun.

Sambil menyeruput kopi, pikiran penulis mengarah ke empat penjuru mata angin sembari menatap cahaya matahari yang mulai menuruni langit.

Padahal banyak orang butuh branding diri. Butuh pengakuan dari publik sebagai yang terbaik. Mencari legitimasi dari khalayak ramai untuk branding dirinya. Apalagi menjelang kontestasi politik Pilkada.

Baca Juga  Gugurnya Gugatan di Peradilan Agama: Beban Biaya yang Menghalangi Akses Keadilan bagi Masyarakat Kurang Mampu

Bahkan terkadang dengan memasang billboard di jalanan utama kota hingga memasang baliho di pinggiran desa untuk menyatakan diri sebagai pemimpin yang terbaik dan berbuat kepada publik.

Sahabat penulis tadi justru sebaliknya. Kontradiksi. Rambut boleh sama hitam. Tapi beda pula cara berpikirnya.

Di era kini, banyak orang terutama menjelang kontestasi politik Pilkada, membutuhkan pengakuan dari publik terhadap dirinya. Padahal kinerjanya biasa-biasa saja.

Tidak ada istimewanya. Tidak ada yang “wah”. Bahkan terkadang banyak mendapat sorotan dari publik atas kinerjanya yang biasa-biasa saja.

Pengakuan dari publik akan lahir dengan sendirinya. Tidak pernah dipoles. Tidak perlu di-makeup. Apalagi direkayasa. Publik yang menilai. Dan publik pula yang merasakan.

Baca Juga  Lahirnya Generasi Bengis: Tantangan bagi Masyarakat Modern