Oleh: Yudha Adinata

Hai hai
Kamu yang masih mengeja rindu
Yang membacanya pada bentangan langit senja
Jangan kau merajuk pada awan hitam yang menggoda
Biarkan… Biarkan saja ia genit sejenak
Melenggak-lenggok merayu langit
Angin akan segera mengusirnya
Dan senjamu akan kembali pulang

Hai hai
Kamu yang masih gagap menulis rindu
Jangan cepat menghapus kata bila kau merasa tak ada yang membacanya
Biarkan…Biarkan saja kata menjadi tanda
Akan ada pengembara yang akan singgah membacanya
Apalagi jika kata itu kau tulis pada kukuhnya batu pengharapan
Ingat batu prasasti akan lebih lebih berharga
daripada tulisan dipasir pantai
Mudah digores mudah pula terhapus

Hai hai
Kau yang masih tertatah-tatih melukis rindu
Jangan cepat membuang lukisan yang belum usai
Biarkan…Biarkanlah jikalau pun hanya sewarna atau malah tanpa warna
Seabstrak apa pun gores lukismu
Akan ada yang menikmati
Karena keindahan itu bukan pada pandangan mata
Tapi lebih pada pandangan batin yang tersembunyi

Baca Juga  Mimpi di Antara Deburan Ombak Batu Belimbing