Malam Dialektika Kader HMI: Dua Buku, Ribuan Gagasan, dan Ruang Debat yang Menghidupkan Nalar Bersama Tokoh Pembedah
Malam Dialektika Kader HMI: Dua Buku, Ribuan Gagasan, dan Ruang Debat yang Menghidupkan Nalar Bersama Tokoh Pembedah
PANGKALPINANG, TIMELINES.ID — Suasana intelektual yang hangat dan penuh gagasan mewarnai agenda “Malam Dialektika: Bedah Buku dan Dialog Terbuka” pada Sabtu (20/12/2025).
Agenda tersebut diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Bangka Belitung (UBB) bersama jajaran HMI IAIN SAS BABEL dan UNMUH BABEL. Kegiatan ini menjadi ruang temu gagasan antara akademisi, tokoh publik, mahasiswa lintas kampus, hingga tamu Mahasiswa internasional, sebagai upaya menghadirkan diskursus kritis di Bangka Belitung.
Dua karya besar menjadi fokus utama dalam agenda tersebut. Buku “Step Ahead With Islam” karya akademisi UBB sekaligus dosen Pendidikan Agama Islam dan alumni HMI, Rozi, S.Sos., M.A., serta buku “Agama Tak Berdaya” karya Abdul Fatah, M.Sc., akademisi UBB sekaligus senior HMI, menjadi bahan kajian yang memantik dialog panjang mengenai peran agama, identitas, dan tantangan sosial keagamaan di era modern.
Dalam sambutannya, Bagaskoro selaku Ketua Umum HMI Komisariat UBB mewakili jajaran komisariat lainnya menyampaikan “Agenda bedah buku ini dilaksanakan sebagai wujud bahwa HMI adalah wadah kaum intelektual yang tercerminkan dalam forum malam ini. Forum akademik ini tidak berhenti malam ini, tapi tunggu pada agenda selanjutnya. HMI tidak akan stagnan menghidupkan forum bagi kaum-kaum intelektual dalam berdinamika di Bangka Belitung”.
Kedua buku ini dibedah oleh dua tokoh penting dengan sudut pandang yang kaya. Tokoh pemuda sekaligus budayawan Bangka Belitung, Ahmadi Sofyan yang dikenal publik dengan nama Atok Kulop, memberikan perspektif kebudayaan dengan bingkai keislaman dan keindonesiaan dalam memaknai gagasan para penulis.
“Kedua buku ini merupakan mahkota bagi Adinda Rozi dan Abdul Fatah. Buku ini saling berkaitan, substansinya memberikan analisa yang mendalam mengenai peran penganut agama dalam menjalankan ajarannya.” Ujar Atok Kulop. Ia juga mengkritik bahwa Islam bukan hanya tentang sholat, tetapi memaknai Islam jauh lebih luas dari itu.
