Oleh: Yan Megawandi – Ketua Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung

Seminggu terakhir, saya seperti menemukan kembali sebuah pintu yang telah lama tertutup. Pintu itu tidak berderit, tidak pula berdebu. Ia hanya menunggu disentuh. Begitu terbuka, aroma masa muda menyeruak begitu saja. Aroma kertas buram, huruf-huruf kecil yang padat, dan dunia imajiner yang dulu terasa lebih nyata daripada pelajaran berhitung dan matematika di kelas. Saya kembali membaca cerita silat karya Asmaraman Kho Ping Hoo.

Saya lupa bagaimana awalnya. Barangkali hanya satu klik yang tidak sengaja. Sebuah tautan blog yang menyebut nama-nama lama. Bu Kek Siansu. Suma Han. Pendekar Bodoh. Pendekar Super Sakti. Nama-nama itu berseliweran begitu saja, seperti sahabat lama yang tiba-tiba menyapa tanpa janji temu. Dari sana, ingatan berlari ke mana-mana. Ke masa ketika buku-buku kecil dengan jilid belasan bahkan puluhan itu menjadi candu yang sulit disembunyikan.

Dulu, di bangku SMP, cerita-cerita silat itu memaksa saya terus membaca, bahkan ketika ujian semester sudah di depan mata. Buku bisa diselipkan di balik buku pelajaran, dibaca di sela jam istirahat, atau diam-diam dibuka saat guru lengah. Dunia pendekar terasa jauh lebih mendesak daripada rumus matematika atau hafalan sejarah.

Baca Juga  Sajak Kematian

Kebiasaan membaca itu tidak lahir tiba-tiba. Ia dikenalkan oleh ibu. Ibuku seorang bidan yang juga adalah pembaca sejati. Hampir semua dibacanya. Koran, buku, novel, tabloid, majalah. Semua disikat tanpa pandang genre. Di rumah kami, berlangganan koran adalah rutinitas, majalah hadir berkala, dan komik menjadi hiburan yang nyaris tak terkontrol. Kadang-kadang, ibu pulang kerjanya di puskesmas dan mampir ke kios buku bekas dengan wajah puas, membawa tumpukan bacaan yang baunya khas: campuran kertas tua dan debu waktu.

Keranjingan membaca komik pernah membawa konsekuensi. Nilai rapor kelas 4 SD saya sempat jeblok. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu larut di dunia cerita. Dunia komik Godam, Gundala, Jaka Sembung, Panji Tengkorak, Si Buta dari Goa Hantu dan bermacam cerita komik menarik lainnya. Melihat itu, bapak dan ibu sepakat mengambil langkah yang terdengar sederhana, tetapi menentukan: memindahkan saya ke kelas yang berbeda, terpisah dari teman karib yang hobi membacanya sama. Komik. Barangkali kepindahan kelas itulah yang menyelamatkan nilai saya di sekolah.

Baca Juga  Pagar Langit

Di kelas baru, fokus belajar perlahan kembali muncul. Di rumah, membaca tetap berjalan, tetapi lebih terkendali. Hasilnya cukup memuaskan. Saya lulus sebagai salah satu dari tiga peraih nilai terbaik di sekolah itu. Membaca tidak ditinggalkan, hanya diarahkan.

Suatu ketika, ibu pulang membawa bacaan yang berbeda. Di antara majalah dan buku-buku loak, terselip satu tumpukan buku cerita silat yang baru saya kenal. Judulnya Suling Emas. Itulah perkenalan pertama saya dengan dunia Kho Ping Hoo.

Kisahnya tentang Kwee Seng, atau Kim-mo Eng, pendekar berhati emas yang mahir memainkan suling. Ia patah hati pada Liu Lu Sian, tetapi dari patah hati itu justru lahir keteguhan. Ia melatih Kam Bu Song, putra Liu Lu Sian, dengan ilmu sulingnya. Kam Bu Song kelak dijuluki “Suling Emas”, dan bersama gurunya, mereka beraksi memberantas kejahatan, menyusuri intrik dunia persilatan yang kejam sekaligus romantis.

Baca Juga  Rumah

Cerita itu segera mengikat saya. Bukan hanya karena jurus-jurus sakti atau duel menegangkan, tetapi karena ada lapisan emosi yang terasa manusiawi. Ada cinta yang tidak harus memiliki. Ada pengorbanan tanpa pamrih. Ada kesetiaan pada nilai, meski dunia tak selalu adil.

Cerita-cerita itu kemudian menjadi bahan diskusi dengan teman-teman di sekolah. Ternyata saya tidak sendiri. Beberapa teman SMP juga penggemar Kho Ping Hoo. Kami mendiskusikan tokoh, membandingkan jurus, memperdebatkan siapa pendekar terkuat, dan diam-diam mengagumi tokoh perempuan yang tak kalah tangguh.

Lalu muncul pertanyaan yang belakangan kembali mengemuka di kepala saya: apa sebenarnya yang membuat cerita silat Kho Ping Hoo begitu menarik dan bertahan lintas generasi? Jawabannya tidak sesederhana nostalgia.