Mottainai Nusantara: Bangun Kembali Harmoni Alam dari Filosofi Jepang dan Warisan Lokal Kita

Oleh: Sobirin Malian — Dosen Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan

Bayangkan pagi cerah di Pantai Kuta, Bali, tahun 1990-an: pasir putih lembut menyapa kaki, air laut biru jernih menggoda para snorkeling, dan angin membawa aroma bunga frangipani. Kini, 2025, pantangan itu tertutup lapisan plastik tebal setebal 10 cm di musim hujan—sampah dari sungai hingga laut berserakan. Pantai begitu kotor. Inikah masa depan yang kita wariskan untuk generasi Z dan Alpha?

Di Jepang, sebuah kata sederhana Mottainai (もったいない)—artinya “sayang sekali, jangan sia-siakan”—telah mengubah bangsa itu menjadi pemimpin lingkungan dunia. Setiap butir nasi, sehelai kain, atau setetes air dianggap suci, bagian dari Wa (和), harmoni alam semesta. Hasilnya? Tingkat daur ulang di Jepang mencapai 84% (data 2024), konsumsi energi per kapita 30% lebih rendah dari rata-rata OECD, bahkan kota seperti Kamikatsu mampu mendaur ulang 100% sampah jadi 45 kategori.

Baca Juga  Hari Perempuan Internasional 2026: Isu Struktural Kesetaraan Gender di Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia, negeri dengan 17% spesies hayati dunia dan hutan tropis terluas ketiga global? Ironisnya Indonesia menjadi penyumbang sampah plastik laut terbesar kedua: 7,8 juta ton per tahun (World Bank 2023, tren naik 5% di 2025). Sungai Citarum tetap juara tercemar dunia (Greenpeace 2024), deforestasi hilangkan 1,2 juta hektar hutan 2020-2025 (KLHK), dan banjir Jakarta akibat mikroplastik menyumbat saluran.

Bukan karena kita tak punya harta alam—kita punya!—tapi kesadaran dan sistem kita belum sinkron. Di perkotaan (urban), gaya hidup konsumtif mendorong 1,5 miliar kantong plastik tahunan; Data lain (radarsuara.com) setiap tahun ada 64 juta ton sampah plastik, dan 3,2 ton sampah plastik dibuang ke laut. Di pedesaan (rural), dimana infrastruktur sangat minim ternyata sampah pun menumpuk. Tapi, jangan pesimis: Indonesia punya Mottainai Nusantara tersembunyi dalam adat leluhur.

Baca Juga  Jangan Jadikan Kampus sebagai Pabrik Robot Berijazah

Warisan Lokal: “Mottainai” Sebelum Jepang Datang

Lupakan impor budaya—kita sudah punya fondasinya! Kita punya adat yang kaya dengan nilai filosofi pelestarian lingkungan. Suku Sasi di Maluku dan Papua: melarang adat panen sagu, ikan, atau kayu selama 3-6 bulan setahun, biar alam regenerasi. Mereka meyakini ada siklus ikan atau masa (waktu) panen sagu sesuai kehendak alam. Apa hasilnya  ? Stok ikan stabil, hutan lestari.

Di Bali, ada adat Subak yang sudah tersohor—sistem irigasi 1.000 tahun—yang mengajarkan gotong royong antar petani, harmoni air-sawah-dewa, diakui UNESCO sejak tahun 2012. Di Maluku lagi, ada adat suku Awé yang melarang buang sampah sembarangan, jika dilanggar akan dihukum adat. Di Jawa, Sampah jadi Pupuk ala petani tradisional pakai kompos dari sisa panen. Data KLHK 2025: 15% masyarakat adat telah menerapkan praktik ini, tingkat kelestarian alam 40% lebih tinggi.

Baca Juga  Desa Tebing: Wajah Baru Menggali Potensi Agrowisata Sawah