Peran Jambu Mete dalam Rehabilitasi Lahan Pascatambang dan Mitigasi Emisi Karbon
Oleh: Jerry Risky Istiladah – Mahasiswa Universitas Bangka Belitung
Jambu mete (Anacardium occidentale L) sebagai tanaman rehabilitasi lahan bekas tambang di Bangka Belitung merupakan langkah yang cukup realistis. Jambu mete itu juga tidak hanya tanaman sebagai tanaman rehabilitas tambang tapi berpotensi signifikan dalam menyerap dan menyimpan karbon dioksida (CO₂).
Kerusakan lahan akibat pertambangan timah telah berlangsung lama dan menciptakan kondisi tanah yang ekstrem, sehingga pendekatan rehabilitasi tidak dapat mengandalkan tanaman hutan bernilai konservasi tinggi semata, tetapi perlu mempertimbangkan tanaman yang mampu bertahan sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang dirujuk, jambu mete terbukti memiliki daya adaptasi yang baik terhadap tanah marginal, termasuk tanah tailing timah yang miskin unsur hara dan memiliki struktur tanah yang rusak.
Hal ini sejalan dengan temuan Sembiring (2017) yang menyatakan bahwa jambu mete memiliki kemampuan fisiologis untuk bertahan pada kondisi cekaman lingkungan. Menurut saya, karakter ini menjadi keunggulan utama jambu mete dibandingkan banyak jenis tanaman lain yang membutuhkan input pupuk dan pengelolaan intensif.
Selain itu, keberadaan sistem perakaran jambu mete yang kuat dan dalam dinilai mampu berkontribusi terhadap stabilisasi tanah dan pengurangan erosi.
Dalam konteks lahan bekas tambang di Bangka Belitung yang rawan degradasi lanjutan, fungsi ini sangat penting sebagai tahap awal pemulihan ekosistem. Seperti ditegaskan oleh Wahyuni (2020), vegetasi penutup berperan dalam meningkatkan bahan organik tanah secara bertahap, sehingga jambu mete dapat berfungsi sebagai “tanaman perintis” dalam proses rehabilitasi jangka panjang.
Dari sisi sosial ekonomi, saya menilai bahwa pengembangan jambu mete memiliki nilai strategis karena mampu menjembatani kepentingan konservasi dan kesejahteraan masyarakat. Penelitian Sari dan Yuliana (2019) menunjukkan bahwa jambu mete dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di lahan marginal.
Dengan demikian, rehabilitasi tidak lagi dipandang sebagai kewajiban ekologis semata, tetapi juga sebagai peluang ekonomi. Pendekatan ini berpotensi meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lah
