Peran Jambu Mete dalam Rehabilitasi Lahan Pascatambang dan Mitigasi Emisi Karbon
Namun, saya juga sependapat bahwa rehabilitasi lahan bekas tambang tidak ideal jika hanya mengandalkan satu jenis tanaman. Seperti disarankan oleh Prasetyo (2021), integrasi jambu mete dengan tanaman penutup tanah dan leguminosa melalui sistem agroforestri merupakan strategi yang lebih efektif.
Menurut saya, kombinasi ini tidak hanya mempercepat perbaikan kesuburan tanah, tetapi juga meningkatkan keanekaragaman hayati dan ketahanan ekosistem dalam jangka panjang..
Jambu mete merupakan tanaman tahunan berkayu yang memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon (C)dari atmosfer dalam bentuk karbon dioksida (CO₂) melalui proses fotosintesis. Karbon yang diserap kemudian disimpan dalam biomassa tanaman (batang, cabang, daun, akar) serta tanah di sekitarnya. Montagnini dan Nair (2004) dalam Agroforestry Systems .
Simpanan karbon di biomassa
- Umur 5 tahun:
o Biomassa pohon menyimpan ~10,05 ton/ha → karbon ~4,63 ton/ha
- Umur 11 tahun:
o Biomassa ~12,16 ton/ha → karbon ~5,59 ton/ha
- Umur 15 tahun:
o Biomassa ~12,79 ton/ha → karbon ~5,88 ton/ha
Keberadaan pohon jambu me di lahan yang dulunya rusakmenciptakan sebuah oase biodiversitas. Struktur tajuknyayang tidak terlalu rapat memberikan cahaya yang cukup bagipertumbuhan flora bawah tanah, seperti tumbuhan paku, rumput penutup tanah dan perdu lokal, namun tetap cukupteduh untuk mencegah penguapan air yang berlebihan.
Dari sisi fauna, jambu mete menyediakan sumber daya pakan yang berkelanjutan. Buah semunya yang mengandung gula tinggi dan nutrisi air menjadi sumber energi bagi mamalia kecil seperti Tupai, Kekes (Tupaiajavanica) dan berbagai jenis kelelawar pemakan buah (Pteropodidae). Kehadiran hewan-hewan ini sangat krusial karena mereka bertindak sebagai agen penyebar biji (seed disperser) alami yang membawa benih dari hutan sekitar ke area rehabilitasi.
Bagi fauna (burung), jambu mete adalah sumber pangandan tempat bersarang yang strategis. Spesies seperti Burung Madu Kelapa (Anthreptes malacensis) sering terlihat menghisap nektar pada bunga jambu mete, sementara Kutilang (Pycnonotus aurigaster) dan Cerukcuk (Pycnonotus goiavier) aktif memakan buahnya yang matang.
Di tingkat mikro, bunga jambu mete menjadi “pusat kegiatan” bagi serangga penyerbuk (polinator) seperti Lebh Madu (Apiscerana) dan Lebah Klanceng (Trigonasp). Kehadiran polinator ini tidak hanya menjamin keberlangsungan produksi kacang mete, tetapi juga membantu penyerbukan tanaman liar di sekitarnya, sehingga mempercepat pemulihan ekosistem hutan secara menyeluruh (Moro, 2015).
Secara keseluruhan, saya berpendapat bahwa jambu mete merupakan tanaman yang potensial sebagai solusi rehabilitasi lahan bekas tambang sekaligus pengikat CO₂. Dengan dukungan kebijakan, pendampingan teknis, dan partisipasi masyarakat, jambu mete dapat menjadi simbol pemulihan lingkungan dan kontribusi nyata terhadap upaya mitigasi perubahan iklim di daerah pascatambang.
