Perempuan dan Harga dari Hidup yang Terus Diminta Taat

Oleh: Aqila Aliya Chandra – Mahasiswi Universitas Bangka Belitung

Di zaman sekarang, segala sesuatu bergerak begitu cepat. Modernisasi dan teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, membawa kemajuan yang luar biasa. Informasi dapat diakses dengan mudah, jarak semakin terasa dekat, dan dunia seolah berada dalam genggaman. Namun, kemajuan itu akan kehilangan maknanya jika tidak digunakan secara bijak. Di tengah laju perubahan yang begitu pesat ini, masih ada satu hal yang kerap tertinggal dalam cara pandang masyarakat, yaitu bagaimana perempuan diposisikan.

Di sini, penulis ingin memusatkan perhatian pada perempuan. Bukan untuk membandingkan atau menyalahkan pihak mana pun, melainkan untuk melihat bagaimana perempuan masih sering dibatasi oleh pandangan-pandangan lama yang seolah tidak ikut bergerak bersama zaman.

Baca Juga  Pembuatan Polisi Tidur 'Jaga Lambat' untuk Cegah Rawan Kecelakaan bagi Siswa SDN 08 Parittiga

Masih ada pandangan luas yang menempatkan perempuan dalam posisi terbatas. Banyak orang percaya bahwa perempuan tidak harus berpendidikan tinggi, bahwa pada akhirnya perannya hanya berkisar pada dapur, rumah tangga, dan pernikahan. Pandangan ini sering kali dianggap wajar, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, hingga akhirnya diterima tanpa dipertanyakan. Padahal, jika dipikirkan kembali, mengapa gagasan ini seolah menjadi keharusan? Mengapa jalan hidup perempuan kerap ditentukan bahkan sebelum ia benar-benar mengenal dirinya sendiri?

Setiap individu memiliki hak untuk memilih jalannya sendiri. Namun, dalam realitas sosial, hak ini tidak selalu diberikan secara setara. Hanya segelintir orang yang memahami bahwa pendidikan, kemandirian, dan kebebasan memilih bukanlah tuntutan berlebihan bagi perempuan, melainkan hak mendasar yang seharusnya dimiliki setiap manusia.

Baca Juga  Polisi Dalami Motif Penganiayaan Terhadap Anak Perempuan 14 Tahun di Depok

Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kehidupan yang terarah. Tidak ada kerugian dalam menempuh pendidikan, karena pendidikan membuka cara berpikir dan membantu seseorang memahami dunia dengan lebih luas. Pendidikan melatih kemampuan mengambil keputusan, menyusun prioritas, serta memahami konsekuensi dari setiap pilihan. Bagi perempuan, pendidikan bukan semata-mata tentang gelar atau ijazah, tetapi tentang membekali diri agar mampu menghadapi kehidupan dengan kesadaran dan kesiapan.

Seorang perempuan yang berpendidikan akan lebih mampu mengelola berbagai aspek kehidupannya. Ia memahami cara mengatur rumah tangga, mengelola keuangan, memanfaatkan teknologi, dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Pendidikan juga tidak selalu harus datang dari ruang kelas formal. Membaca, berdiskusi, belajar dari pengalaman hidup, serta membuka diri terhadap pengetahuan baru adalah bagian dari proses pendidikan itu sendiri. Semua itu membentuk cara berpikir yang lebih matang dan tidak mudah terjebak dalam pola lama.

Baca Juga  Rayakan Dies Natalis ke-19, UBB Libatkan Ratusan Mahasiswa dalam Beragam Event