SURABAYA, TIMELINES.ID – Tiga hingga enam detik. Durasi yang terdengar singkat, hampir tidak berarti dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam situasi bahaya, detik-detik itu bisa menentukan segalanya. Waktu yang dibutuhkan seseorang untuk membuka browser, mencari website, menemukan tombol darurat, lalu akhirnya menekan tombol tersebut. Dalam konteks pelecehan yang sedang terjadi, durasi semacam itu terlalu lama.

Kesadaran akan celah kritis inilah yang mendorong sembilan mahasiswa semester lima Teknologi Informasi Telkom University Surabaya merancang SIGAP, platform pelaporan pelecehan seksual yang berbeda dari yang sudah ada. Bukan sekadar digitalisasi formulir atau database laporan, melainkan ekosistem teknologi yang dirancang untuk memahami kondisi psikologis korban, melindungi anonimitas dengan sistem terdesentralisasi, dan merespons dengan kecepatan yang sesuai tingkat urgensi.

Proyek ini lahir dari pertemuan dua mata kuliah: Proyek Teknologi Informasi yang diampu Mustafa Kamal, S.Kom., M.Kom., dan Pemrograman Website yang dibimbing Mastuty Ayu Ningtyas, S.Kom., M.MT. Kolaborasi keduanya memberi mahasiswa semester lima ruang untuk tidak hanya membangun sistem, tetapi juga mempertanyakan nilai di balik teknologi yang mereka kembangkan.

Perjalanan pengembangan dimulai dari kritik yang tajam. Presentasi awal tim ke Pak Kamal menampilkan konsep platform pelaporan konvensional dengan formulir digital. Respons yang datang langsung menohok: “Apa bedanya ini dengan Google Forms atau pelaporan lewat WhatsApp kalau cuma fitur formulir?”

Baca Juga  Dibekali Baterai 6000 mAh, Ini Spesifikasi Honor X7b 5G

Pertanyaan sederhana, namun memaksa tim yang dipimpin Sulthonika Mahfudz Al Mujahidin bersama Nur Alifia Rustan, Teuku Ismail Syuhada, Muhammad Dwiky Yanuarezza, Freti Dewi Andini, Davinsyah Putra Antoro, Muhammad Fajar Shodiq, dan A’isyah Belqis Febi Aulia untuk berpikir ulang. Mereka menyadari asumsi keliru dalam pendekatan awal: seolah korban pelecehan seksual sudah siap melaporkan begitu kejadian terjadi.

Realitas di lapangan jauh lebih rumit. Ada jarak besar antara kejadian pelecehan dengan masuknya laporan resmi. Penyebabnya bukan sistem yang kompleks, tetapi ketidaksiapan mental korban. Kebingungan prosedural, takut stigma, keraguan apakah pengalaman mereka cukup serius untuk dilaporkan. Masalah psikologis, bukan teknis.

Dari sini lahir gagasan TemanKu AI Chatbot. Bukan robot layanan pelanggan yang merespons dengan template kaku, tetapi jembatan psikologis bagi mereka yang masih ragu. Seseorang yang baru mengalami pelecehan tidak langsung berpikir “saya harus lapor”. Yang mereka butuhkan adalah ruang untuk memproses kejadian, memahami apa yang terjadi, merasa aman untuk berbicara.

Baca Juga  Manfaatkan Threads Untuk Bisnis, Ini Tipsnya agar Cuan

TemanKu memungkinkan pengguna memulai percakapan seolah sedang curhat kepada teman dekat. Tidak ada pertanyaan kaku tentang pelaporan. Dialog berkembang bertahap, memberikan validasi emosional, sambil sistem bekerja di belakang layar menganalisis intensitas narasi.

Mekanisme Cumulative Intent Scoring mengevaluasi percakapan secara bertahap. Saat dialog mengarah pada indikasi insiden kritis atau bahaya fisik, sistem merekomendasikan pembuatan laporan resmi. Tidak memaksa, tetapi memandu. Teknologi menjadi fasilitator keputusan, memberi pengguna kendali penuh atas proses pelaporan mereka.

Bu Ayu melihat potensi lebih jauh. Saran untuk integrasi behavioral biometrics datang dari sesi pembimbingan: sistem tidak hanya membaca apa yang diketik, tetapi bagaimana pengguna mengetiknya. Seseorang yang mengetik cepat lalu menghapus berulang kali, menunjukkan keraguan atau trauma yang perlu pendekatan lebih hati-hati.

Respons chatbot pun disesuaikan: “Saya melihat kamu mengetik dan menghapus pesan beberapa kali. Tidak perlu khawatir, pelan-pelan saja, saya di sini menunggu sampai kamu siap.” Detail kecil yang jarang terpikirkan, namun membawa perbedaan signifikan bagi pengguna dalam kondisi rentan.

Baca Juga  AI di Ruang Pembelajaran: Kawan atau Ancaman?

Fitur aksesibilitas menjadi perhatian berikutnya. Text-to-Speech untuk pengguna dengan keterbatasan visual atau kondisi kelelahan. Teks yang mudah disalin. Semua dirancang dengan prinsip: teknologi harus memudahkan, bukan menjadi penghalang saat seseorang membutuhkan bantuan.

Setelah prototipe terbentuk, tim mengajukan kolaborasi dengan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Telkom University Surabaya. Tujuannya memastikan sistem relevan dengan kebutuhan riil di lapangan, bukan hanya asumsi mahasiswa.

Pertemuan dengan Amalia Nur Alifah, S.Si., M.Si., koordinator Satgas PPKPT, berlangsung pada 19 November 2025. Masukan konkret datang terkait desain blog Kabar SIGAP yang perlu lebih ramah pembaca, dan penguatan fitur Wawasan sebagai modul edukasi. Amalia menekankan bahwa edukasi adalah fondasi pencegahan.

Platform sekompleks ini kurang bermakna tanpa pemahaman pengguna tentang hak-hak mereka. Respons awal yang ia sampaikan justru berbentuk pertanyaan: “Ini tugas besar atau tugas akhir?” Kompleksitas sistem yang ditampilkan ternyata melebihi beberapa tugas akhir yang pernah ia lihat. Integrasi AI chatbot, enkripsi AES-256, rencana implementasi blockchain pada proyek mahasiswa semester lima memang jarang ditemui.