Ramadan: Ujian Iman atau Sekadar Pindah Jam Makan?

​Oleh: Dr. (H.C.) H. Muhammad Gofi Kurniawan, Lc., S.QI., C.MA. — Pimpinan Ma’had Daarul Iman Kimak, Bangka)

Setiap kali Ramadan tiba, sebuah anomali visual tersaji di depan mata. Di satu sisi, masjid-masjid bersolek dan mendadak ramai. Namun di sisi lain, denyut pasar dan mal justru lebih sibuk mendikte ritme hidup masyarakat. Kita sering terjebak dalam fenomena “panik belanja” atau sekadar ajang pamer kemewahan melalui ritual buka puasa bersama yang berlebihan.
​Jika puasa hanya dimaknai sebagai upaya menahan lapar, maka para fakir miskin sudah melakukannya sepanjang tahun. Maka, muncul pertanyaan mendasar yang perlu kita refleksikan bersama: Apa esensi Ramadhan selain sekadar menggeser jam makan?

Baca Juga  Momentum Ramadan, PT Timah Berbagi Kebahagiaan dengan Guru Ngaji dan Marbot Masjid

Puasa “Jempol” di Era Digital
​Tantangan terberat Muslim modern saat ini bukanlah rasa haus di tenggorokan, melainkan “puasa mental”. Banyak dari kita mampu menahan dahaga, namun gagal menahan jempol untuk tidak nyinyir, memaki, atau menyebar berita bohong di media sosial.
​Rasulullah SAW telah memberikan peringatan keras dalam hadis riwayat Bukhari: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan tetap melakukannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.”
Puasa seharusnya menjadi rem pakem bagi lisan dan perilaku digital kita. Tanpa itu, lapar kita hanya menjadi ritual kosong tanpa makna spiritual.