Siapakah Orang yang Cerdas
Oleh: Ustad Abdussalam Alghozali
HIKMAH RAMADHAN, Al kayyisu man daana nafsahu wa ’amila lima ba’dal mauti orang yang cerdas itu adalah orang yang mampu mngoreksi dirinya, dan beramal untuk kehidupan setelah kematiannya.
Seberapa cerdas kita mengelola kehidupan di dunia, sehingga mampu membuat langkah-langkah yang seimbang antara dunia dan akhirat. Addunya mazro’atul akhirah dunia ini ladangnya akhirat.
Dunia adalah tempat setiap orang menanam amalnya yang akan dipetik dikehidupan akhirat.
Visi seseorang akan menentukan langkah hidupnya. Salah memaknai tujuan hidup akan berakibat fatal, karena aktivitasnya bisa saja hanya bersifat duniawi saja tanpa ada makna untuk akhiratnya.
Sebagai seorang muslim visi seorang manusia hadir di muka bumi adalah untuk menjadi khalifah di bumi, dan beribadah kepada Allah. akan tetapi, masih banyak yang keliru menetapkan langkah dalam kehidupannya.
Contoh kecil, yang dapat kita lihat bagaimana peran keluarga dalam memperhatikan pendidikan Islam bagi anggotanya, lingkungannya, pemahaman tentang Al Qur’an, Fiqih, Aqidah, Bahasa Arab, dan sebagainya.
Perhatian masyarakat kepada agama masih banyak yang terabaikan. Berapa banyak anak-anak kita yang belum bisa mengaji, belum bisa sholat, belum bisa mandi junub, dan sebagainya.
Padahal semua tersebut adalah hal dasar yang harus diketahui. Dan masih banyak yang tidak mempermasalahkan hal tersebut. Berapa banyak saat Ramadhan yang tidak berpuasa, dan tidak malu menampakkannya kepada yang lain.
Dilansir dari laman LPPOM MUI, menurut Ustadz DR.Samsul Basri Ada tiga penyebab yang membuat manusia mudah lalai dan berpaling dari perintah Allah SWT.
Pertama, melihat kematian masih jauh darinya. Kedua, kecintaan yang berlebihan terhadap dunia, dan ketiga mengonsumsi makanan haram.
Pertama, Melihat kematian masih jauh darinya. Padahal kematian sangat dekat dengan manusia. Tanpa diundang dia akan datang, tanpa menunggu kita siap dia akan menjemput kita.
Nabi berpesan kepada umatnya ”perbanyaklah oleh kalian mengingat pemutus kenikmatan yakni kematian”. Agar kita tidak ngoyo dengan dunia, tidak berlebihan dalam memperkaya diri, karena dunia bukan tempat abadi.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.