Membaca Ulang Kisah Nabi Yusuf (Bagian 2)
Ketika Anak Percaya untuk Bercerita
Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali
Setiap kisah besar hampir selalu dimulai dari sesuatu yang kecil. Dalam Surat Yusuf, Al-Qur’an tidak langsung membawa kita pada sumur yang gelap atau penjara yang sempit. Kisah ini justru dibuka dari sebuah rumah, dari suasana keluarga yang tenang, dan dari seorang anak yang berani mendekati ayahnya untuk bercerita.
“Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; aku melihat semuanya bersujud kepadaku.”
(QS. Yusuf: 4)
Buya Hamka, menyoroti pembukaan kisah ini sebagai sesuatu yang sangat penting. Menurutnya, Al-Qur’an sengaja memulai kisah Yusuf dari hubungan batin antara anak dan ayah, bukan dari konflik. Ini memberi pesan halus bahwa pendidikan, ujian, bahkan takdir besar seorang anak, sering kali berakar dari suasana rumah tempat ia dibesarkan.
Yang menarik, Yusuf tidak memanggil ayahnya dengan sebutan biasa. Ia berkata, “yā abati” wahai ayahku. Para Ulama Tafsir menjelaskan bahwa bentuk panggilan ini menunjukkan kelembutan, rasa hormat, dan kedekatan emosional. Yusuf merasa cukup aman untuk membuka isi mimpinya, sesuatu yang bagi seorang anak bukan perkara sepele.
Dari sudut pandang Tafsir, mimpi Yusuf adalah ru’ya shadiqah, mimpi yang benar, sebagai isyarat masa depan. Namun , mimpi itu bukan untuk dibanggakan, melainkan amanah yang harus dijaga. Allah sering kali memberi kabar gembira lebih dahulu, bukan untuk membuat hamba-Nya lengah, tetapi agar hatinya kuat ketika ujian datang bertubi-tubi.
Sementara itu, Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur’an menggambarkan adegan ini dengan bahasa yang sangat hidup. Ia melihat dialog Yusuf dan ayahnya sebagai percakapan yang penuh ketenangan. Kisah besar ini dibuka dalam suasana sunyi, seolah Al-Qur’an ingin mengajak pembaca mendekat, bukan sekadar menyaksikan. Perubahan besar, sering dimulai dari percakapan yang jujur dan bersahaja.
Namun respon Nabi Ya’qub sangat menentukan arah kisah ini.
“Wahai anakku, jangan engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, karena mereka akan merencanakan tipu daya terhadapmu.”
(QS. Yusuf: 5)
