Penulis: Herlian, S. Pd.Gr. — Kepala SMA IT CAHAYA, Toboali

Alhamdulillah, tahun ini kita masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan tamu agung dan bulan agung, bulan yang paling mulia dari 12 bulan yaitu bulan puasa atau bulan Ramadan tahun 1447 H. Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh kemulian, bulan yang akan mendidik Qalbu, bukan hanya mendidik pikiran ataupun yang lainnya.

Di bulan inilah kita benar- benar belajar dengan baik dan selalu niatkan karena Allah SWT. Setiap Ramadhan datang, suasana akan berubah. Mulai dari jalanan yang menjelang maghrib ramai oleh pencari takjil, suara tilawah terdengar dari rumah ke rumah dan masjid yang pada bulan puasa terasa hening tiba-tiba penuh. Saf salat yang biasanya hanya satu baris, ketika bulan Ramadhan tiba saf shalat rapat, parkiran meluber, bahkan sebagian jamaah harus menggelar sajadah hingga ke halaman.

Baca Juga  Cara Meminta Maaf kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal

Suasana ini selalu menenangkan. Ada harapan yang tumbuh di sebuah masyarakat kita, alhamdulillah. Masyarakar kita ternyata masih mencintai ibadah. Namun di balik ramainya masjid, muncul satu pertanyaan yang lebih mendalam, apakah hati kita juga ikut penuh? Pertanyaan ini adalah sebuah tolak ukur untuk kita dan di masyarakat sekarang. Karena sesungguhnya, Ramadan bukan hanya tentang banyaknya orang yang datang ke masjid, tetapi tentang seberapa jauh hati ikut hadir bersama tubuh.

Banyak keberkahan dan daya tarik sendiri di saat bulan yang penuh berkah ini. Tidak bisa kita pungkiri, Ramadhan memiliki daya arik spiritual yang luar biasa. Mengapa, karena orang yang jarang salat berjamaah rajin datang. Anak muda yang biasanya sibuk dengan kegiatan di zaman digital mulai ikut tarawih. Bahkan mereka yang sepanjang tahun terasa jauh dari masjid pun mendadak kembali. Ini salah satu fenomena sosial yang indah bisa kita lihat di sekitaran lingkungan kita.

Baca Juga  Hukum Mimpi Basah Siang Hari Saat Puasa Apakah Batal?

Bulan penuh berkah ini seperti panggilan lembut yang mengetuk kesadaran manusia. Ada rasa rindu, kangen, terharu yang tiba- tiba muncul. Rindu pada ketenangan, rindu pada makna hidup. Rindu pada hubungan dengan Tuhan yang sering terlupakan oleh kesibukan dunia. Namun kebahagian ini kadang hanya berhenti pada suasana, bukan perubahan jiwa. Kita hadir, tetapi belum tentu benar- benar sadar mengapa kita hadir. Mengapa, karena masjid menjadi ramai, tetapi hati masih sibuk memikirkan urusan yang lain.

Pernahkah kita sadar terhadap sesuatu? Ketika imam membaca ayat panjang, senagian jamaah mulai gelisah. Ada yang melihat jam berkali- kali. Ada yang diam- diam membuka ponsel setelah salam. Bahkan ada yang lebih sibuk mengambil foto suasana Ramadan dari pada menikmati ibadah itu sendiri. Ini sebuah fenomena yang luar biasa, feomena seperti ini bukan untuk disalahkan, tetapi untuk kita renungkan.

Baca Juga  Membaca Ulang Kisah Nabi Yusuf (Bagian 2)

Kita hidup di zaman yang serba instan dan cepat. Pikiran terbiasa melompat dari satu hal ke hal lain. Ketika tubuh berhenti untuk shalat, pikiran sering belum ikut berhenti. Jadi, akibatnya ibadah terasa seperti rutinitas fisikm bukan pertemuan spiritual. Padahal pusat Ramadhan bukan sekadar menahan rasa lapar dan haus, melainkan melatih kehadiran hati. Bagaimana hati kita benar- benar fokus dididik di bulan suci ini. .