Ayah sebagai Poros Ketenteraman Anak (QS Yusuf: 4-5)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali

Dalam tulisan sebelunmya, kita sudah menyimak kisah kala seorang anak datang dengan cerita yang tidak biasa. Mimpi tentang bintang, matahari, dan bulan bukan mimpi anak kebanyakan. Namun yang membuat adegan ini istimewa bukan hanya isi mimpi Yusuf, melainkan cara ayahnya menyambut cerita itu.

Nabi Ya’qub tidak terkejut berlebihan. Ia tidak memotong cerita, tidak pula menakut-nakuti. Ia mendengar sampai selesai, lalu merespons dengan suara yang tenang:

“Wahai anakku, jangan engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu…”

Kalimat itu bukan bentakan. Ia adalah nasihat yang keluar dari hati seorang ayah yang stabil jiwanya. Di saat anak membawa kebingungan, ayah justru menjadi sumber ketenangan.

Baca Juga  Doa Rasulullah untuk Mengusir Jin: Arab, Latin, dan Artinya

Di sinilah Al-Qur’an memperlihatkan salah satu peran penting ayah dalam keluarga.  Menjadi poros emosi, tempat anak berlabuh ketika pikirannya penuh tanda tanya.

Ketenangan Nabi Ya’qub kala mendengar mimpi yang diceritakana oleh buah hatinya Yusuf bukanlah muncul tiba-tiba. Ia adalah buah dari kedewasaan rohani. Seorang ayah yang gelisah akan menularkan kegelisahan. Sebaliknya, ayah yang tenang akan menenangkan.

Nabi Ya’qub tidak menampakkan rasa takut, padahal ia memahami potensi bahaya dari mimpi Yusuf. Ia memilih ketenangan agar anaknya tidak hidup dalam kecemasan. Di sinilah peran ayah sebagai penyangga emosi keluarga terlihat sangat kuat.

Ketenangan respons Nabi Ya’qub menunjukkan hikmah dalam komunikasi. Ia tidak membuka takwil mimpi, tidak pula menutupnya dengan larangan kaku. Ia hanya memberi pagar pengaman. Ini menandakan bahwa ayah bukan sekadar pemberi perintah, tetapi pengelola rasa aman.

Baca Juga  Selain Meningkatkan Kualitas Iman, Inilah 11 Manfaat Ibadah Puasa Bagi Kesehatan Tubuh