Oleh: Muhammad Abdur Rozzaq — Pengajar Al Qur’an di SDIT Alam CAHAYA, Toboali

Siapa yang tidak ingin hidup mulia? Al-Qur’an mengajarkan bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada asal-usul, rupa, atau kekuatan, melainkan pada ilmu yang bersumber dari Allah. Hal itu tergambar jelas dalam kisah penciptaan Nabi Adam ‘alaihissalam.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 30 tentang kehendak-Nya menjadikan seorang khalifah di bumi. Khalifah di sini bermakna makhluk yang diberi amanah untuk menjalankan hukum dan ketetapan Allah di bumi. Dialah Nabi Adam.

Menariknya, para malaikat tidak mempertanyakan bumi itu sendiri, seakan memahami bahwa bumi telah ada lebih dahulu. Yang mereka pertanyakan adalah sosok khalifah yang akan menempatinya. Mereka berkata “Apakah Engkau akan menjadikan di sana orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah?”

Baca Juga  Membaca Ulang Kisah Nabi Yusuf (Bagian 5): Mimpi Anak Adalah Amanah

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa sebelum manusia, bumi pernah dihuni oleh banul jaan dari kalangan jin. Mereka melakukan kerusakan dan saling membunuh. Karena itulah malaikat khawatir makhluk baru ini akan berbuat serupa. Dalam tafsir lain dijelaskan bahwa malaikat, sebagai makhluk suci, memiliki firasat yang terbimbing. Mereka melihat potensi ujian dalam diri makhluk yang diberi kehendak dan nafsu.

Para malaikat berkata “Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu.” Seakan mereka berkata, kami selalu taat, selalu bertasbih, maka bukankah kami lebih layak menjadi khalifah?

Allah menjawab dengan tegas “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Di sinilah letak rahasia besar itu. Malaikat tidak memiliki nafsu dan tidak diuji dengan pilihan. Manusia memiliki potensi salah, tetapi juga potensi taat. Di antara keturunan Adam akan ada yang beriman dan ada yang durhaka. Dari situlah tampak keadilan Allah. Yang taat masuk surga, yang membangkang mendapat balasan setimpal.

Baca Juga  Dukung Budaya Literasi, Ponpes Qur'an Cahaya Serahkan 2 Buku karya Guru ke Perpustakaan Basel

Penciptaan Adam dan Kemuliaan Ilmu

Allah menciptakan Adam dari berbagai jenis tanah di bumi, dengan warna dan karakter yang berbeda-beda, lalu meniupkan ruh ke dalamnya. Jadilah manusia sebagai makhluk yang hidup, merasakan panas, dingin, sedih, marah, dan cinta.

Namun kemuliaan Adam bukan karena asal penciptaannya, melainkan karena ilmu. Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruh benda, baik yang berakal maupun tidak, yang hidup maupun yang mati, termasuk berbagai fungsi dan hikmahnya. Ini menjadi dalil bahwa Adam adalah nabi yang diajari langsung oleh Allah. Nabi adalah orang yang diberi berita dan petunjuk langsung dari-Nya, dan ilmu dari Allah tidak mungkin keliru.