Membaca Ulang Kisah Nabi Yusuf (Bagian 7): Hasad, Penyakit Hati yang Menggerogoti Keluarga
Hasad, Penyakit Hati yang Menggerogoti Keluarga (QS. Yusuf: 8)
Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali
Al-Qur’an tidak langsung menceritakan tindakan kejam. Ia lebih dulu membuka isi hati. Setelah kalimat tentang rasa tidak adil, ayat itu berlanjut dengan pengakuan yang lebih jujur:
“Ayah kita benar-benar dalam kesesatan yang nyata”
Kalimat ini terasa keras. Ia tidak lahir dari diskusi tenang, tetapi dari hati yang telah dikuasai rasa iri. Ketika hasad mulai bekerja, akal kehilangan keseimbangannya. Orang yang sebelumnya hanya merasa tidak diperhatikan, kini mulai menilai dan menghakimi.
Inilah titik berbahaya dalam konflik keluarga. Ketika perasaan berubah menjadi tuduhan, dan kekecewaan berubah menjadi legitimasi untuk menyalahkan.
Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, menjelaskan bahwa ucapan saudara-saudara Yusuf adalah puncak dari kecemburuan yang lama dipendam. Menurut Hamka, hasad membuat seseorang merasa paling benar, bahkan berani menuduh orang tua sendiri sebagai keliru.
Hamka menulis dengan nada reflektif bahwa penyakit hati selalu mencari pembenaran. Ketika hasad menguasai, yang rusak bukan hanya hubungan, tetapi juga cara melihat kebenaran.
