Ketika Hasad Berubah Jadi Rencana (QS. Yusuf: 9)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali

Jika hasad dibiarkan, ia tidak akan diam. Ia menuntut tindakan. Al-Qur’an menggambarkan titik itu dengan satu ayat yang dingin, nyaris tanpa emosi:

“Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat, agar perhatian ayahmu tertuju kepadamu…”

Kalimat ini mengejutkan, bukan karena kata-katanya saja, tetapi karena alasan di baliknya. Tujuannya bukan sekadar menyingkirkan Yusuf, tetapi merebut cinta ayah. Hasad telah berubah menjadi logika. Kejahatan kini tampak masuk akal di mata pelakunya.

Di sinilah Al-Qur’an menunjukkan bahwa rencana jahat jarang lahir dari kebencian murni. Ia sering lahir dari keinginan mendapatkan sesuatu yang dianggap hilang.

Baca Juga  Jaga Hati, Pikiran, dan Lisan

Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, menjelaskan bahwa usulan membunuh atau membuang Yusuf menunjukkan dua hal. Pertama, hati mereka telah gelap. Kedua, mereka masih sadar bahwa membunuh adalah kejahatan besar, sehingga muncul opsi yang dianggap “lebih ringan”.

Hamka menulis bahwa manusia yang sedang dikuasai iri sering kali mencari justifikasi moral. Mereka tidak menganggap diri jahat, tetapi merasa sedang memperjuangkan keadilan versi mereka sendiri.