Keadilan Orang Tua, Antara Niat dan Persepsi Anak (QS. Yusuf: 8 – dibaca dari sisi orang tua)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali

Al-Qur’an merekam keluhan para saudara Yusuf tanpa menyebut respons Nabi Ya’qub pada momen itu. Tidak ada dialog. Tidak ada pembelaan. Yang ada hanya suara anak-anak yang merasa tersisih:

“Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya lebih dicintai ayah kita daripada kita, padahal kita adalah satu kelompok.”

Kalimat ini menjadi cermin yang jujur bagi setiap orang tua. Karena di dalamnya, Al-Qur’an tidak sedang membela siapa pun. Ia hanya memperlihatkan apa yang dirasakan anak, bukan apa yang diniatkan ayah.

Baca Juga  Berpuasa, untuk Apa? (Bagian 1)

Inilah ruang refleksi paling sunyi dalam kisah Yusuf. Bukan tentang kesalahan anak, tetapi tentang celah yang mungkin tidak disadari oleh orang tua.

Nabi Ya’qub as tentunya bukanlah ayah yang zalim atau pilih kasih. Beliau adalah seorang ayah yang juga seorang Nabi. Cintanya kepada Yusuf dan Bunyamin lahir dari kasih sayang alami kepada anak yang lebih kecil dan kehilangan ibu. Namun, menurut Buya Hamka ada satu hal penting dalam kisah ini, cinta yang benar tetap bisa disalahpahami jika tidak dikelola dengan bijak.

Hamka menulis bahwa orang tua sering merasa telah adil karena niatnya lurus. Padahal anak menilai keadilan bukan dari niat, tetapi dari apa yang mereka lihat dan rasakan.

Baca Juga  Istilah Imsak di Indonesia: Kajian Hidup Sunah

Wahbah az-Zuhaili dalam tafsirnya menguatkan hal ini. Ia menjelaskan bahwa kecintaan Nabi Ya’qub kepada Yusuf tidak berarti ia membenci anak-anak lainnya. Namun, perbedaan perhatian, meskipun beralasan, perlu diimbangi dengan komunikasi yang menenangkan.

Ayat ini tidak menuduh Nabi Ya’qub salah, tetapi mengajarkan bahwa keadilan orang tua harus dipahami anak, bukan hanya dirasakan orang tua.