Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 10): Saat Anak Salah Jalan, Nurani Belum Mati (QS. Yusuf: 10)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali

Di tengah rencana yang gelap, Al-Qur’an menghadirkan satu suara yang berbeda. Tidak keras, tidak dominan, tetapi cukup untuk mengubah arah.

“Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Janganlah kamu membunuh Yusuf. Masukkan saja dia ke dasar sumur, agar dipungut oleh kafilah musafir.’”

Kalimat ini lahir dari kelompok yang sama. Dari hati yang sebelumnya ikut dikuasai iri. Namun di tengah keruhnya niat, nurani masih menyala. Inilah pesan halus Al-Qur’an. Bahkan dalam kesalahan, manusia tidak selalu kehilangan seluruh kebaikannya.

Baca Juga  Amalan-amalan Sunnah saat Hari Raya Idul Fitri

Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, menjelaskan bahwa suara ini adalah bentuk sisa kasih sayang yang belum padam. Saudara yang mengusulkan agar Yusuf dibuang ke sumur masih ingin menyelamatkan nyawa, meski caranya tetap salah.

Hamka menulis bahwa kejahatan sering terjadi bukan karena hilangnya hati sepenuhnya, tetapi karena hati yang ragu-ragu dikalahkan oleh tekanan kelompok.

Wahbah Zuhaili dalam kitab tafsirnya menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan adanya perbedaan tingkat kesalahan. Tidak semua pelaku memiliki niat yang sama. Ada yang mendorong, ada yang ikut, dan ada yang berusaha mencegah sebisanya.

Ini penting dalam memahami dinamika anak dan remaja. Tidak semua yang ikut salah adalah penggerak utama.

Baca Juga  Membangun Keluarga Penuh Berkah

Keberadaan suara nurani ini adalah rahmat Allah. Allah membuka pintu keselamatan Yusuf melalui hati yang belum sepenuhnya rusak. Ini menunjukkan bahwa hidayah sering datang dari arah yang tidak disangka.