Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 10): Saat Anak Salah Jalan, Nurani Belum Mati
Rupa godaan dan tipuan iblis terkkadang tidak selalu mengajak ke dosa besar sekaligus. Ia sering mengarahkan ke dosa yang dianggap lebih ringan, agar kejahatan tetap berjalan.
Sementara itu, Sayyid Qutb melihat ayat ini sebagai gambaran pergulatan batin manusia. Menurutnya, bahkan orang yang salah jalan masih menyimpan percikan nilai, dan di situlah perubahan bisa dimulai.
Al-Qur’an tidak memotret manusia sebagai hitam-putih saja. Tetapi sebagai makhluk yang terus bergulat antara nurani dan dorongan gelap.
Karena itulah ketika terjadi sebuah pelanggaran atau kesalahan oleh anak, penting agar orang tua tidak memvonis anak yang berbuat salah sebagai “rusak”. Karena sejatinya kesalahan anak sering kali masih menyisakan ruang didik.
Abdullah Nasih Ulwan menyarankan agar orang tua dapat mencari titik kebaikan yang masih hidup. Lalu memperkuat suara nurani, bukan mempermalukan mereka yang bersalah. Serta agar orang tua mampu membedakan antara kesalahan dan karakter anak.
Anak yang masih memiliki rasa bersalah masih memiliki harapan besar untuk dibimbing kembali.
Di zaman sekarang, anak sering terjebak dalam tekanan kelompok. Keputusan salah tidak selalu lahir dari niat jahat, tetapi dari keinginan diterima.
Sebagai orang tua dan pendidik kita dituntuu untuk jeli. Di balik perilaku salah, sering ada anak yang sebenarnya ingin berbuat benar, tetapi tidak cukup kuat melawan arus.
Kisah Nabi Yusuf bersama saudara-saudaranya ini mengajarkan bahwa tugas orang dewasa bukan hanya menghukum, tetapi menyelamatkan sisa nurani yang masih hidup. Agar kesalahan itu tidak terus membesar dan membakar semua bagia nurani yang masih tersisa di dalam jiwa.
