Gelar Seminar Program Ketahanan Pangan, Melati Satukan Penyuluh dan Petani untuk Perkuat Kedaulatan
Gelar Seminar Program Ketahanan Pangan, Melati Satukan Penyuluh dan Petani untuk Perkuat Kedaulatan
PANGKALPINANG, TIMELINES.ID — Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Partai Gerindra Daerah Pemilihan Kepulauan Bangka Belitung, Melati, menginisiasi seminar bertajuk “Mengawal Mandat Pangan: Harmonisasi Langkah Legislatif dan Petani dalam Program Ketahanan Pangan Era Presiden Prabowo” sebagai ruang konsolidasi arah pembangunan pangan daerah agar selaras dengan agenda nasional di bawah Presiden Prabowo Subianto.
“Ketahanan pangan tidak bisa berjalan sporadis, karena ini adalah sistem yang saling terhubung dari hulu sampai hilir,” katanya di hadapan 500 peserta yang terdiri dari penyuluh pertanian dan gabungan kelompok tani (gapoktan) se-Bangka Belitung, di Pangkalpinang, Rabu siang.
Ia mengatakan, penyuluh, gapoktan, pemerintah daerah dan DPR harus berada pada frekuensi yang sama. Produksi bukan sekadar panen, tetapi bagian dari sistem kemandirian daerah.
Data yang dipaparkan menunjukkan dua sisi Bangka Belitung. Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat 150,84, indikasi daya beli dan nilai tambah usaha tani yang relatif baik. Produksi padi tahun 2024 mencapai 77.490 ton gabah kering giling, dengan kenaikan luas panen 19,09 persen.
“Angka tersebut baru mampu memenuhi sekitar 31 persen kebutuhan konsumsi daerah. Ini bukan kegagalan, tapi pekerjaan rumah besar. Kita punya capaian, tetapi juga celah yang harus ditutup secara sistematis,” terang Melati.
Ia menekankan empat fondasi perbaikan. Pertama, optimalisasi irigasi dan pengairan, terutama di lahan sawah bukaan baru. Kedua, percepatan adopsi teknologi pertanian yang saat ini baru berkisar 30 persen.
Ketiga, stabilitas harga dan kepastian pasar agar petani panen dalam kepastian. Keempat, penguatan kelembagaan tani agar gapoktan mampu mengelola produksi hingga akses pembiayaan secara profesional.
“Tanpa jaminan air tidak ada jaminan produksi. Tanpa teknologi kita tertinggal. Tanpa kepastian harga, petani panen dalam kekhawatiran,” ujarnya.
