Kepercayaan yang Dibangun oleh Karakter (QS. Yusuf: 41–42 dan seterusnya)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali

Kepercayaan tidak lahir dari kata-kata. Ia tumbuh dari waktu ke waktu, dari sikap yang konsisten, dari karakter yang terlihat dalam keseharian.

Di penjara, Yusuf tidak memiliki kekuasaan. Ia juga tidak memiliki status sosial yang tinggi. Tetapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih kuat: integritas.

Dua orang yang dipenjara bersamanya telah mendengar penjelasan Yusuf tentang iman. Mereka juga melihat bagaimana Yusuf hidup di tengah keterbatasan. Karena itu mereka mempercayakan sesuatu yang sangat pribadi: mimpi mereka.

Setelah menjelaskan tentang tauhid, Yusuf akhirnya menafsirkan mimpi itu.

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 15): Godaan dan Keteguhan Iman

“Wahai kedua sahabatku di penjara, adapun salah seorang di antara kalian akan memberi minum tuannya dengan khamar…” (QS. Yusuf: 41)

Ia menjelaskan dengan jelas nasib mereka. Salah satu akan kembali kepada pekerjaannya sebagai pelayan raja, sementara yang lain akan dihukum mati.

Ini bukan kabar yang mudah disampaikan. Tetapi Yusuf tidak memutarbalikkan makna demi menyenangkan hati pendengar. Ia menyampaikan apa yang ia pahami dengan jujur.

Kebenaran kadang tidak selalu nyaman, tetapi justru dari situlah kepercayaan lahir.

Kemudian Yusuf berkata kepada orang yang ia yakini akan selamat:

“Sebutlah aku kepada tuanmu.” (QS. Yusuf: 42)

Permintaan ini sangat manusiawi. Yusuf sudah lama berada dalam penjara. Ia tahu dirinya tidak bersalah. Ia berharap ada jalan untuk keluar melalui orang yang akan kembali ke istana.

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 12): Anak Menghadapi Dunia Tanpa Pelindung

Namun ayat itu melanjutkan dengan sesuatu yang sangat menarik:

“Tetapi setan membuat orang itu lupa menyebutkan Yusuf kepada tuannya…” (QS. Yusuf: 42)

Kesempatan yang tampak dekat ternyata tertunda. Orang yang seharusnya menyampaikan kabar itu justru lupa.

Akibatnya: