Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 25): Ketika Masa Lalu Datang Kembali
Ketika Masa Lalu Datang Kembali (QS. Yusuf: 58–62)
Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali
Waktu berjalan panjang sejak Yusuf dipisahkan dari keluarganya. Peristiwa itu terjadi ketika ia masih anak-anak. Kini, setelah melalui perjalanan yang begitu panjang, Allah menempatkannya pada posisi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Ia bukan lagi anak yang dilempar ke dalam sumur.
Ia kini adalah orang yang dipercaya mengelola persediaan makanan sebuah negeri.
Pada masa itu, kekeringan melanda wilayah yang luas. Banyak negeri mengalami kesulitan pangan. Orang-orang dari berbagai tempat datang ke Mesir untuk membeli bahan makanan.
Di antara rombongan yang datang itu, terdapat wajah-wajah yang sangat dikenal Yusuf.
Al-Qur’an menggambarkan momen itu dengan kalimat yang sederhana tetapi sangat kuat:
“Dan saudara-saudara Yusuf datang, lalu mereka masuk ke tempatnya. Maka Yusuf mengenal mereka, sedangkan mereka tidak mengenalnya.”
(QS. Yusuf: 58)
Ayat ini menggambarkan sebuah pertemuan yang sarat emosi.
Yusuf mengenali mereka.
Ia melihat wajah-wajah yang dahulu menjadi bagian dari hidupnya. Wajah-wajah yang pernah mengantarnya pada luka yang sangat dalam. Wajah-wajah yang dulu merencanakan pembuangan dirinya.
Namun mereka tidak mengenali Yusuf.
Waktu telah mengubah banyak hal. Yusuf kini berdiri sebagai pejabat penting negeri itu. Bahasa, pakaian, dan kedudukannya membuat mereka tidak menyadari bahwa orang yang mereka hadapi adalah adik yang dulu mereka khianati.
Bayangkan situasi ini dari sisi psikologis.
Seseorang yang pernah disakiti kini berhadapan kembali dengan orang-orang yang menyakitinya. Ia memiliki kekuasaan penuh. Ia memiliki kendali atas situasi. Ia bahkan bisa membalas tanpa ada yang mengetahui kebenaran masa lalu.
Tetapi Yusuf tidak bereaksi dengan kemarahan.
Al-Qur’an tidak menunjukkan bahwa ia langsung membuka identitasnya. Ia juga tidak mempermalukan mereka di depan umum. Ia memilih untuk tetap tenang dan menjalankan proses dengan cara yang sangat terukur.
Di sinilah terlihat kematangan yang telah dibentuk oleh perjalanan hidupnya.
Sebagian penjelasan tafsir menggambarkan bahwa Yusuf tidak terburu-buru membuka masa lalu karena ia ingin melihat keadaan keluarganya terlebih dahulu. Ia juga ingin mengetahui bagaimana keadaan ayahnya dan adik kandungnya, Bunyamin.
Karena itu ia mulai bertanya kepada mereka tentang keluarga mereka.
Setelah melayani kebutuhan mereka, Yusuf menyusun rencana yang halus. Ia meminta mereka untuk membawa adik mereka yang lain ketika datang kembali.
Al-Qur’an menyebutkan:
“Bawalah kepadaku saudara kalian yang dari ayah kalian…”
(QS. Yusuf: 59)
