Oleh: Nelawati, S.Si — Pengajar di SDIT Alam CAHAYA

Futur sering dikenal dengan arti menurunnya keimanan kita. Di mana ketika kita futur, kita akan merasakan malas untuk beribadah atau seringkali kita menunda-nunda kewajiban salat dan enggan untuk melakukan ibadah sunah. Futur membuat kita tidak tertarik untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Futur seringkali menyelimuti diri kita, apalagi jika kita tidak sama sekali meng-charge iman kita, seperti kita jarang atau bahkan sudah lama sekali kita tidak membaca Al-Qur’an atau bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita memegang mushaf Al-Qur’an. Maka jangan biarkan kefuturan terpelihara dalam diri kita secara terus menerus dalam waktu yang lama.

Baca Juga  Tetap Produktif Bekerja saat Puasa

Oleh karena itu, cara kita terlepas dan bangkit dari kefuturan ialah dengan on time melaksanakan kewajiban beribadah, jika berat maka terkadang kewajiban memang harus dipaksakan, tetap berada di barisan orang-orang yang selalu mengingatkan kita pada kebaikan, selalu melibatkan Allah dalam setiap aktivitas kita, semaksimal mungkin istiqomah dalam kebaikan, dan yang paling penting teruslah meminta kepada Allah SWT untuk memudahkan langkah kaki kita menuju majelis ilmu.

Futur membuat kita sangat berat untuk melaksanakan kewajiban. Jangankan ibadah wajib, bahkan ibadah sunah pun bisa malah semakin berat untuk dilakukan, seperti beratnya melaksanakan salat sunah rawatib, beratnya untuk puasa Senin-Kamis, bahkan untuk berzikir yang hanya menggerakkan mulut saja seakan tak sanggup kita lakukan.

Baca Juga  Menyibak Kegelapan (Bagian 2): Tauhid sebagai Pondasi

Maka jangan biarkan kita berada dalam lobang kefuturan itu. Karena turunnya iman kita (kefuturan) bukan hanya berasal dari godaan syaiton dari berbagai arah, tetapi bisa jadi ia datang dari diri kita sendiri yang terus menerus memelihara kemalasan.

Ramadan, Ikhtiar bangkit dari kefuturan