Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 29): Kesabaran Indah Seorang Ayah
Kesabaran Indah Seorang Ayah (QS. Yusuf: 80–83)
Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali
Di Mesir, saudara-saudara Yusuf kini menghadapi kenyataan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Bunyamin harus tinggal di negeri itu karena piala kerajaan ditemukan di dalam karungnya.
Janji mereka kepada ayah mereka kini terasa sangat berat.
Salah seorang dari mereka akhirnya mengambil keputusan yang mengejutkan.
“Maka berkatalah yang paling tua di antara mereka: ‘Tidakkah kalian mengetahui bahwa ayah kalian telah mengambil janji dari kalian atas nama Allah, dan sebelumnya kalian telah menyia-nyiakan Yusuf? Karena itu aku tidak akan meninggalkan negeri ini sampai ayahku mengizinkan kepadaku atau Allah memberi keputusan kepadaku.’”
(QS. Yusuf: 80)
Kalimat ini menunjukkan sesuatu yang mulai berubah dalam diri mereka.
Jika dahulu mereka mampu menyingkirkan Yusuf tanpa penyesalan yang tampak, kini salah satu dari mereka memilih tinggal di Mesir demi menjaga tanggung jawab kepada ayah mereka.
Ini adalah tanda bahwa pengalaman hidup telah mengubah hati mereka.
Namun saudara-saudara yang lain tetap harus pulang.
Dan pulang kali ini jauh lebih berat daripada perjalanan sebelumnya.
Mereka harus membawa kabar yang sangat menyakitkan kepada ayah mereka. Bunyamin tidak kembali bersama mereka.
Ketika mereka tiba di rumah dan menceritakan apa yang terjadi, mereka mencoba menjelaskan bahwa mereka tidak bersalah.
“Wahai ayah kami, sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami tidak bersaksi kecuali terhadap apa yang kami ketahui.”
(QS. Yusuf: 81)
Mereka bahkan menyarankan ayah mereka untuk bertanya kepada orang-orang di negeri itu agar mengetahui kebenaran cerita mereka.
Namun hati seorang ayah sering kali memiliki cara membaca kenyataan yang berbeda.
Nabi Ya’qub mendengarkan cerita mereka, tetapi hatinya kembali merasakan sesuatu yang tidak mudah dijelaskan.
Luka lama tiba-tiba terasa terbuka kembali.
Ia berkata:
“Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik suatu urusan. Maka kesabaran yang indah itulah yang terbaik bagiku.”
(QS. Yusuf: 83)
Kalimat ini mengingatkan pada ucapan Nabi Ya’qub bertahun-tahun sebelumnya ketika Yusuf pertama kali hilang.
Kini, ujian yang hampir serupa datang kembali.
Namun respons Nabi Ya’qub tetap sama. Kesabaran yang indah.
