Luka yang Tidak Pernah Hilang, tapi Tidak Mematikan Harapan (Bagian 30)
(QS. Yusuf: 84)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali

Setelah kabar tentang Bunyamin sampai, suasana rumah Nabi Ya’qub berubah menjadi sunyi yang panjang.

Ini bukan lagi sekadar kehilangan. Ini adalah luka yang berlapis.

Ia pernah kehilangan Yusuf.
Kini ia harus menghadapi kenyataan bahwa Bunyamin pun tidak kembali.

Di titik ini, Al-Qur’an tidak lagi menggambarkan dialog panjang. Yang ditampilkan justru adalah satu potret yang sangat dalam, sangat manusiawi

“Dan dia berpaling dari mereka seraya berkata: ‘Aduhai duka citaku terhadap Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih karena sedih, dan dia menahan amarahnya.”
(QS. Yusuf: 84)

Ayat ini adalah salah satu gambaran paling jujur tentang kesedihan seorang ayah.

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 15): Godaan dan Keteguhan Iman

Nabi Ya’qub tidak menyembunyikan rasa dukanya. Ia menyebut nama Yusuf, anak yang telah lama hilang, seolah luka itu tidak pernah benar-benar sembuh.

Ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan, ada luka yang mungkin tidak sepenuhnya hilang.

Waktu bisa berlalu bertahun-tahun, tetapi kenangan dan rasa kehilangan tetap hidup di dalam hati.

Dan Al-Qur’an tidak menolak hal itu.

Kesedihan bukanlah tanda lemahnya iman.

Justru dalam kisah ini, kesedihan hadir berdampingan dengan keimanan yang sangat kuat.

Ayat tersebut juga menyebutkan bahwa penglihatan Nabi Ya’qub menjadi putih, yang dalam banyak penafsiran dipahami sebagai tanda bahwa ia mengalami kebutaan karena kesedihan yang mendalam.

Ini memberi pesan penting. Bahwa beban batin bisa berdampak pada fisik.

Baca Juga  Pembelajaran dari Perjalanan Misi Dagang

Seorang ayah mungkin tampak kuat di luar, tetapi di dalam hatinya ia menyimpan beban yang sangat besar.

Namun di tengah gambaran kesedihan itu, ada satu kalimat yang sering luput diperhatikan:

“Dan dia menahan amarahnya.”

Ini adalah kunci dari kekuatan Nabi Ya’qub.

Ia sedih, sangat sedih.
Ia menangis, bahkan sampai berdampak pada fisiknya.

Tetapi ia tidak melampiaskan emosinya dengan kemarahan yang merusak.

Ia tidak menghancurkan hubungan dengan anak-anaknya.
Ia tidak melontarkan kata-kata yang melukai.