Oleh: Kaum Pecinta Damai

Di kursi gading, sang raja bertahta,
Matanya jauh menatap ufuk yang buta.
Bukan karena ia tak ingin melihat jelata,
Tapi karena pandangannya tertutup tirai kata-kata.

Ada bayang yang berdiri di balik pundak,
Lidah bercabang, hatinya retak.
Ia membisikkan madu yang penuh tuba,
“Semua baik-baik saja,” katanya tanpa iba.

Katanya, tangis di pasar adalah nyanyian syukur.
Katanya, perut yang lapar adalah bukti laku luhur.
Katanya, kritik adalah duri yang harus dipangkas,
Agar singgasana tetap tegak, kokoh, dan tangkas.

Baca Juga  Aku Senang Dibenci, Taksuka Dihormati